Demikian disampaikan Direktur Keuangan BNBR Eddy Soeparno, Bakrie Tower, Jalan HR Rasuna Said Jakarta, Jumat (20/8/2011) malam.
"Kita ada rencana, mudah-mudahan bisa di akhir tahun. Nilainya enggak langsung besar minimum Rp 1 triliun. Kami sedang melakukan pemeringkatan ke Pefindo," jelas Eddy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Struktur obligasi, lanjut Eddy, memiliki jangka waktu tiga waktu. Namun ia belum sampai menunjuk penjamin emisi (underwriter) obligasinya. "Belum sampai situ. Namun jika bisa akhir tahun ini akan terbit," tuturnya.
Selain menerbitkan obligasi, BNBR juga terus melanjutkan debt to asset settlement untuk menutupi medium structured notes (MSN) yang masih tersisa. Hingga semester I perseroan telah melakukan debt to asset settlement Rp 1,2 triliun dari total Rp 3,2 triliun.
"Sisanya akan kami settlement pada triwulan III ini dengan satu pihak. Aset-aset itu terbagi dalam beberapa anak usaha perseroan. Macam-macam ada Bakrie Telecom, Bakrie Sumatera Plantation, dan lainnya. Tiap kreditur punya yang beda-beda," tegas Eddy.
Pelunasan MSN melalui debt to asset settlement, dilakukan sebelum jatuh tempo di Januari 2012. Atas kemampuan sebagian settlement Rp 1,2 triliun tersebut, perseroan mendapatkan forgiveness interest Rp 362 miliar.
"Karena sudah buyback sebelum jatuh tempo di 20 Januari 2012, jadi ada potongan bunga dan dicatatkan sebagai pendapatan," ungkapnya.
(wep/ang)











































