Pasar Saham akan Fluktuatif Sampai Akhir 2011

Pasar Saham akan Fluktuatif Sampai Akhir 2011

- detikFinance
Senin, 19 Sep 2011 19:43 WIB
Jakarta - Pasar saham Indonesia masih akan bergerak fluktuatif sampai dengan akhir 2011. Bukan karena kekhawatiran politik dan ekonomi dalam negeri, melainkan potensi krisis dunia karena ketidakpastian krisis utang Yunani.

Demikian disampaikan Direktur PT Schroders Investment Indonesia Michael Tjoajadi, di Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Senin (19/9/2011).

"Market akan fluktuatif, di 2012 bahkan sampai dengan akhir tahun ini. Bukan karena market kita, tapi dunia. Ada bayang-bayang faktor eksternal," ungkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Potensi krisis masih menyelimuti investor dari berbagai belahan negara. Khususnya kekhawatiran perbankan Eropa akan terpuruk, karena telah menalangi utang dalam jumlah yang besar ke sejumlah negara, seperti Yunani, Spanyol, Italia dan Irlandia.

"Sudah mengarah ke politik. Eropa akan lebih lama probelumnya, karena ia satu mata uang (Euro) di banyak negera. Kalau AS kan satu mata uang, dan bisa mereka lakukan dengan melemahkan mata uang, agar ekonomi AS bergerak," tuturnya.

Dimana, negara Eropa dengan kekuatan ekonomi tinggi, Jerman dan Prancis tercatat ambil bagian terbesar dalam menyuntikan modal ke negara Yunani. Dan, suatu saat Yunani default, maka uang dari Jerman dan Prancis sulit untuk kembali.

"Akan terjadi collaps bank, dan ini akan jadi problem big economy. Kalau sudah jadi problem bank, maka Eropa akan jatuh. Greece default makan bank-bank di kedua negera juga jatuh, maka negara ini jatuh. Akan ada skema membiarkan (Yunani) dibiarkan default," tuturnya.

Lalu apa yang kemudian membuat investor dunia optimis? Michael menyebut, Bank Sentral Eropa harus memiliki komitmen untuk terus menjaa Euro, seraya dengan menurunkan harga makanan dan minyak dunia.

"Karena disana daya beli berkurang. Makin banyak orang-orang peminta-minta karena daya beli hilang," imbuhnya.

Dalam 10-15 tahun ke depan, memang akan terjadi rebalancing kekuatan ekonomi. Dimana, negara-negara emerging market muncul menjadi penggerak ekonomi dunia.

"Orang (investor) akan mencari ke developing county, dan China di 2020 akan menjadi luar biasa, menjadi penyumbang GDP terbesar di dunia. Negara berkembang, kontribusi terbesarnya adalah Asia. Investor akan lari ke Asia," pungkasnya.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads