Emiten-emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta melakukan buyback saham pasca Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 8%. Selain bisa mendapat keuntungan di harga murah, masuknya pembelian dari emiten BUMN itu juga bisa membantu bangkitnya pasar.
Menurut mantan Sekretaris Kementerian BUMN M. Said Didu, anjloknya IHSG seperti sekarang ini sudah tidak bisa dibiarkan dan perlu perhatian khusus dari pemerintah.
"Sudah saatnya pemerintah dan BUMN mempertimbangkan cara penyelesaian anjloknya harga saham, seperti pada tahun 2008 lalu," katanya kepada detikFinance, Jumat (23/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa pernah dilakukan oleh sejumlah BUMN di 2008 silam. Atas arahan Menteri BUMN yang kala itu dijabat Sofyan Djalil, sejumlah BUMN diminta membeli kembali saham-sahamnya di pasar.
Ia menyayangkan sikap pemerintah yang lambat dalam mengantisipasi anjloknya IHSG yang sangat dahsyat itu. Baik pemerintah dan BUMN belum melakukan hal yang signifikan.
"Lamban sekali (pemerintah) padahal harga saham sudah anjlok terbesar di dunia," katanya.
Selain bisa membeli kembali di harga murah, BUMN itu bisa menyimpan saham-saham tersebut sebagai treasuri yang bisa dijual kembali di kemudian hari, ketika harganya sudah naik tinggi.
"Dulu PIP (Pusat Investasi Pemerintah) dan Telkom (TLKM) dapat untung besar," katanya.
Said menambahkan, selain PIP dan Telkom, BUMN lain yang juga ikut melakukan buyback saham juga mendapat keuntungan yang signifikan. Tak hanya BUMN, pemerintah juga mendapat keuntungan melalui dana yang dihasilkan oleh buyback PIP.
Seperti diketahui, pada saat krisis tahun 2008 lalu, pemerintah meminta emiten BUMN yang memiliki kas lebih untuk melakukan pembelian kembali saham mereka di pasar. Buyback ini dipercaya bisa menjadi tamengnya bursa saham, dan ternyata memang berhasil menghalau krisis di pasar. (ang/dnl)











































