Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara BI Difi A. Johansyah ketika dihubungi, Jumat (23/9/2011).
"Rupiah itu melemah tidak sama seperti ringgit atau negara lain yang melemahnya sangat tajam. Kita masih apresiasi sebenarnya dibandingkan dengan negara lain kita masih relatif stabil," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah kalau (dolar) sudah Rp 9.800 baru itu kelihatan ada masalah. Tapi ini masih sesuai asumsi kita kok. Masih sesuai koridor. Tapi kita masih berpegang rupiah masih sesuai skenario," katanya.
Dikatakan Difi, pelemahan rupiah terjadi karena guncangan ekonomi global yang mempengaruhi seluruh mata uang di regional. Para investor harus menutupi nilai kerugian investasinya di negara maju yang tengah rontok ekonominya.
Tapi Difi mengatakan nilai tukar rupiah masih relatif stabil. Berikut perbandingan pergerakan nilai tukar rupiah dan mata uang regional lain pada periode Januari sampai 21 September 2011:
- Yuan (China) masih apresiasi 3,46 persen
- Yen (Jepang) masih apresiasi 6,55 persen
- Rupiah (Indonesia) masih apresiasi 1,89 persen
- Dolar (Singapura) masih apresiasi 1,1 persen
- Peso (Filipina) masih apresiasi 0,17 persen
- Ringgit (Malaysia) depresiasi 2,49 persen
- Baht (Thailand) depresiasi 1,64 persen
- Won (Korea) depresiasi 3,3 persen











































