Dalam Sepekan, US$ 1 Triliun 'Hilang' dari Wall Street

Dalam Sepekan, US$ 1 Triliun 'Hilang' dari Wall Street

- detikFinance
Sabtu, 24 Sep 2011 12:06 WIB
Dalam Sepekan, US$ 1 Triliun Hilang dari Wall Street
Jakarta - Nilai saham-saham di bursa Wall Street turun hingga US$ 1 triliun sepanjang pekan ini, di tengah meningkatkan ketakutan investor akan munculnya kembali resesi perekonomian dunia.

Pasar saham di AS memang anjlok pekan ini akibat makin besarnya peringatan kepada pemerintah di Eropa dan AS untuk melakukan tindakan penyelamatan perekonomian.

Kebijakan Operation Twist The Fed (buyback obligasi jangka panjang US$ 400 miliar) dinilai tidak optimal dan indikasi resiko pelemahan signifikan atas ekonomi AS merupakan sentimen negative bergugurannya bursa dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbankan juga diingatkan bakal menjadi sektor pemicu turunnya perekonomian, dan ini sempat membuat indeks Dow Jones turun 800 poin.

Berdasarkan data dari Wilshire 5000, indeks saham terluas di Amerika, nilai kerugian di Wall Street mencapai US$ 1 triliun dalam sepekan. Ini merupakan pekan terparah kedua di Wall Street sejak Oktober 2008 di mana saat itu terjadi krisis keuangan di AS.

Namun saham-saham di Wall Street berhenti turun pada Jumat kemarin. Ini akibat adanya respon yang kuat dari para menteri keuangan negara anggota G20 untuk memulihkan perekonomian global.

Para menteri keuangan tersebut mencatat risiko penurunan ekonomi global makin besar, sistem keuangan masih rapuh, kemudian masih adanya gejolak di pasar keuangan, pertumbuhan ekonomi yang lemah, dan tingkat penganggutan yang tinggi.

"Tapi pasar masih khawatir dengan situasi di Eropa dan para pejabat (G20) terlihat lambat bertindak untuk memulihkannya. Ketakutan dan ketidakpastian merupakan dua hal yang paling dibenci pasar saham, dan ini terus mendominasi selama ini," jelas Analis Scott Marcouiller seperti dikutip dari AFP, Sabtu (24/9/2011).

Sepanjang pekan ini, indeks Dow Jones turun 6,4% ke level 10.771,48, indeks S&P 500 turun 6,5% k level 1.136.43, dan indeks Nasdaq turun 5,3% ke level 2.483,23.

Banyak analis mengatakan, volatilitas pergerakan bursa saham akan makin kencang. Nasib bursa saham global saat ini bergantung pada kebijakan yang akan diambil oleh Eropa serta kebijakan fiskal di AS.

Pelaku pasar saat ini menunggu data perekonomian, apakah akan terjadi resesi baru atau tidak.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads