Demikian siaran pers Antam yang disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan Bimo Budi Satriyo, Jumat (30/9/2011).
"Peningkatan ini terutama disebabkan oleh kenaikan volume penjualan dan harga jual komoditas inti Antam," jelas Bimo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang semester I-2011 Antam menjual feronikel yang seluruhnya diekspor sebesar Rp 1,97 triliun atau naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 1,83 triliun.
Harga feronikel di semester I-2011 dilaporkan naik 20% menjadi US$ 11,29 per pon. Volume penjualan feronikel di semester I-2011 turun 7% menjadi 9.072 ton.
Antam juga mencatat penjualan bijih nikel sebesar Rp 1,19 triliun, naik 7% di semester I-2011. Kenaikan ini disebabkan peningkatan volume penjualan bijih nikel sebesar 5% di semester I-2011 menjadi 2.869.064 wet metric ton (wmt) dari volume penjualan semester I-2010 sebesar 2.721.497 wmt, serta kenaikan harga jual rata-rata bijih nikel.
Volume produksi bijih nikel di semester I-2011 naik 15% menjadi 3.909.479 wmt dibandingkan dengan volume produksi semester I-2010 yang sebesar 3.393.336 wmt.
Antam juga meraup untung dari emas yang harganya naik 27% menjadi US$ 1.472,81 per troy ounce (toz) dari harga rata-rata di semester I-2010 yang sebesar US$1.157,08 per toz. Antam memperoleh Rp 1,5 triliun dari emas di semester I-2011.
Sepanjang semester I-2011 Antam menjual 3.611 kg emas atau naik 6% dibanding semester I-2010 yang sebesar 3.403 kg.
Volume produksi emas Antam di semester I-2011 turun 10% menjadi 1.241 kg dibandingkan produksi semester I-2010 sebesar 1.382 kg terutama disebabkan belum ditambangnya vein emas yang direncanakan di tambang Cibaliung.
(dnl/hen)











































