"Total dana (penerbitan obligasi) sekitar Rp 35-40 triliun," ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI, di Hotel Ritz Calton, SCBD, Jakarta, Rabu (26/10/2011).
Maraknya penerbitan surat utang tahun depan didasarkan atas tingkat suku bunga yang terkendali. Prospek ekonomi Indonesia juga tergolong baik, hingga obligasi menjadi instrumen pendanaan yang menarik di periode jangka menengah dan panjang. Perusahaan sektor perbankan dan pembiayaan menjadi pihak yang lebih banyak menerbitkan obligasi tahun depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BII akan menerbitkan dua jenis surat utang. Pertama, obligasi konvensional berkelanjutan dengan total Rp 2 triliun, serta obligasi sub ordinasi (sub debt) Rp 500 miliar. Sedangkan Adira Finance juga akan menerbitkan obligasi berkelanjutan dengan total Rp 2 triliun.
Masih ada obligasi PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) senilai Rp 1 triliun, dan Sarana Multigriya Financial dan Indonesia Eximbank. Eddy menambahkan, terdapat dua perseroan baru yang memasukan dokumen obligasi.
"Masih pengkajian tahap awal, nilai total keduanya sekitar Rp 1,75 triliun. Bergerak di sektor keuangan dan sektor riil.
Sementara itu, BEI juga menargetkan laba bersih setelah pajak Rp 147,41 miliar di 2012, dengan pendapatan usaha non setoran atas penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 538,85 miliar.
"Untuk saldo kas di 2012 kami proyeksikan mencapai Rp 967,15 miliar, dan akan diinvestasikan pada reksa dana maksimal 40%, sisanya obligasi. Kita bukan Manajer Investasi, jadi tidak akan dialihkan ke instrumen lain," tegas Direktur Keuangan BEI, Supandi.
(wep/ang)











































