Menurut Direktur Utama ISAT, Harry Sasongko, laba naik akibat selisih kurs dan turunnya beban pendanaan. Walaupun terjadi peningkatan dalam beban penyusutan dan amortisasi.
Pendapatan usaha hingga September 2011 mencapai Rp 15,36 triliun, naik 3,5% dari periode sebelumnya Rp 14,84 triliun. Pendapatan selular mencapai Rp 12,58 triliun, naik 4,8% dari tahun lalu. Sedangkan pendapatan non selular Rp 2,77 triliun, turun tipis 1,9% dari periode sebelumnya Rp 2,82 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang Januari-September 2011 total utang perseroan mencapai Rp 21,64 triliun, turun 20,7% dari periode sebelumnya Rp 27,3 triliun. Investasi barang modal tunai mencapai Rp 3,9 triliun hingga triwulan III-2011, naik 8,9% dari posisi yang sama tahun lalu Rp 4,33 triliun.
"Indosat mengurangi lebih dari 20% setelah membayar utang jatuh tempo obligasi Indosat IV Rp 815 miliar, obligasi syariah Ijarah I Rp 285 miliar, pinjaman sindikasi US$ 112,5 juta, cicilan pinjaman SEK Tranche A,B, dan C sebesar US$ 33,6 juta, HSBC Coface dan Sinosure US$ 20,1 juta, pinjaman komersial 9 tahun dari HSBC US$ 1,4 juta," jelas Harry di kantornya, Jakarta, Senin (31/10/2011).
ARPU selular turun 16,6% menjadi Rp 29.439 dibandingkan tahun lalu Rp 35.310. Ini disebabkan oleh naiknya jumlah pelanggan 29,9% dari triwulan III-2010, 39,7 juta orang menjadi 51,5 juta orang.
(wep/ang)











































