Demikian disampaikan Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo saat ditemui di DPR RI, Jakarta, Rabu (30/11/2011).
"Tekanan pada nilai tukar tidak hanya dialami Indonesia. Seluruh dunia, termasuk Asia, memang sedang terkena dampak apa yang terjadi di Amerika sama Eropa," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua investor global mereka memang betul-betul persepsi risikonya itu terganggu. Sehingga langkah mereka adalah pay to safe haven currency. Mereka keluar dari berbagai belahan dunia. Membeli berbagai sekuritas, US treasury bill bond, yang denominationnya dolar," jelasnya.
Oleh karena itu, lanjut Perry, harus dibandingkan kinerja rupiah dengan kawasan.
"Kalau kita bandingkan rupiah dengan kawasan, kita itu masih lebih baik dengan Ringgit Malaysia, Singapura Dolar, dan Korean Won. Memang kalau dibandingkan Baht Thailand dan Peso Philipin lebih rendah," ujarnya.
Namun, Perry menyatakan pihak BI tetap melakukan intervensi untuk menjaga nilai tukar rupiah tersebut. Dia menegaskan cadangan devisa yang dimiliki BI masih cukup untuk menjaga nilai tukar tersebut.
"Semua mata uang kawasan merlemah, trennya memang melemah. Terus terang ketidak pastian di dunia sangat2 tinggi. Pada umumnya investor kalkulasi untung rugi, yang sudah keluar dulu, mereka akan rekalkulasi portfolio investasinya di awal tahun depan. Sehingga memang ini konsentrasi kita tetep BI akan berada di pasar. Kita akan tetap menstabilkan nilai tukar rupiah melalui intervensi valas maupun pembelian SBN dan cadev kita cukup," jelasnya.
Meskipun demikian, Perry enggan menyebutkan perkiraan nilai tukar rupiah hingga akhir tahun, apakah tetap berada di atas Rp 9000 atau ditekan ke bawah melalui instrumen yang dimilikinya.
"Saya tidak prediksi, lihat hasilnya dari hari ke hari. Stabiitasnya oke. Pelemahan ya memang melemah wong semua negara di dunia melemah masa kita menguat sendiri? Aneh kan? Tapi pelemahannya masih kita lebih baik dari sejumlah negara di kawasan," tandasnya.
(nia/ang)











































