Kuasi Reorganisasi Tuntas, Bakrie Hapus Defisit Rp 34,9 Triliun

Kuasi Reorganisasi Tuntas, Bakrie Hapus Defisit Rp 34,9 Triliun

- detikFinance
Kamis, 08 Des 2011 07:27 WIB
Kuasi Reorganisasi Tuntas, Bakrie Hapus Defisit Rp 34,9 Triliun
Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akhirnya menyelesaikan proses kuasi reorganisasi. Melalui aksi ini, BNBR akan menghapus defisit senilai Rp 34,9 triliun yang terutama berasal dari akumulasi kerugian.

Defisit itu diantaranya berasal dari nilai akumulasi kerugian bersih, selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali dan rugi investasi jangka pendek yang belum terealisasi.

Sampai dengan 30 Juni 2011, BNBR mencatat saldo defisit sebesar Rp 27,7 triliun. Defisit terutama merupakan akumulasi dari kerugian bersih Perseroan sebesar Rp 16,5 triliun pada 2008, Rp 1,7 triliun pada 2009 dan Rp 7,6 triliun pada 2010.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BNBR melalui siaran persnya menjelaskan, kuasi reorganisasi sudah tuntas setelah melalui tata cara dan prosedur yang berlaku. Pada 6 Oktober 2011, pemegang saham telah memberikan persetujuan melalui RUPS. Dan hingga 6 Desember, tidak ada kreditur Perseroan yang melakukan sanggahan atau menyatakan keberatan terhadap rencana Perseroan terkait Kuasi tersebut.

Pada tanggal 7 Desember 2011, BNBR juga telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) terkait aksi korporasi ini.

"Kami sangat mengapresiasi dukungan dari para pemangku kepentingan terhadap suksesnya pelaksanaan kuasi reorganisasi BNBR," jelas Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/CEO BNBR dalam siaran persnya, Kamis (8/12).

BNBR meyakini suksesnya pelaksanaan kuasi reorganisasi membuat neraca keuangan BNBR semakin sehat. Dengan begitu, Perseroan memiliki keleluasaan untuk menjalankan business plan yang telah disusun. Secara finansial, BNBR juga akan lebih mudah untuk mendapatkan dukungan pembiayaan dari eksternal. Sebab, terhapusnya saldo defisit, lanjut Bobby, tentunya akan membuat risiko bisnis BNBR ikut menurun.

"Ini memungkinan Perseroan untuk mendapatkan pembiayaan eksternal dengan biaya lebih rendah," ujar Bobby.

Bobby mengaku strategi bisnis BNBR saat ini sudah sangat tepat dalam menghadapi turbulensi yang terjadi pada perekonomian global. Apalagi, Perseroan memiliki pengalaman panjang menghadapi dua krisis besar yang pernah terjadi, yaitu krisis moneter di tahun 1997 dan krisis finansial global tahun 2008. Itu sebabnya, Bobby berkeyakinan, strategi yang kini telah dipersiapkan oleh BNBR akan efektif untuk meningkatkan kinerja Perseroan di masa mendatang.

Ia Bobby juga menegaskan, BNBR akan tetap fokus di sektor industri berbasis sumber daya alam dan infrastruktur. Dua sektor tersebut dianggap memiliki prospek dan nilai tambah yang sangat positif. Kendati perekonomian global, khususnya di Eropa sedang mengalami krisis, Bobby meyakini perekonomian Indonesia di tahun 2012 masih akan tumbuh antara 6,6% hingga 7%.

"Stabilnya faktor-faktor ekonomi dan keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan infrastruktur akan menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi nasional, dan BNBR akan berperan aktif dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia," imbuhnya.

(qom/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads