Pasar Modal Tetap Berkembang Meski BI Terapkan Kebijakan Tight Bias

Pasar Modal Tetap Berkembang Meski BI Terapkan Kebijakan Tight Bias

- detikFinance
Selasa, 10 Agu 2004 10:09 WIB
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah menegaskan perkembangan pasar modal tetap berjalan meski BI melakukan kebijakan tight bias. Pasalnya kebijakan itu dilakukan untuk memelihara stabilitas ekonomi jangka panjang sehingga terjadi perbaikan. Selain itu langkah tersebut dalam meningkatkan fundamental emiten yang berimplikasi pada pengurangan komersilitas.Menurutnya, ada tiga faktor yang cukup penting untuk meningkatkan fundamental emiten saat ini. Pertama, tingkat suku bunga yang rendah. Kedua, menurunnya pajak korporasi dari 30 persen menjadi 28-25 persen. Ketiga, rasio harga saham di Indonesia price earning ratio (PER) masih rendah.Demikian diungkapkan Burhanuddin dalam pembukaan perdagangan saham di lantai Bursa Efek Jakarta, Selasa (10/8/2004) dalam rangka ulang tahun ke-27 diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia.Dia juga menegaskan hari ini akan dilakukan rapat dewan gubernur bulanan yang arahnya tetap menjaga stabilitas ekonomi, seperti mempertahankan inflasi di level 6-7 persen. "Sehingga kita tetap melakukan kebijakan tight bias untuk 1-2 bulan ke depan dengan cara menyerap kelebihan likuiditas di pasar selain salah satunya concern pada masalah suku bunga," katanya. Menurutnya, sepanjang 2003 dan semester I 2004 stabilitas ekonomi dapat dijaga dan diteruskan meskipun inflasi beberapa waktu belakangan ini sempat bergejolak. Namun BI optimis dengan kebijakannya inflasi bisa bertahan di level 6-7 persen. Untuk itu, lanjut dia, perlu dilakukan langkah-langkah untuk menjaga stablitas ekonomi supaya berkelanjutan. Bagaimanapun kata Burhanuddin, kebijakan suku bunga rendah telah membuat animo masyarakat menggunakan pasar modal lebih banyak. Dia juga mengingatkan ada dua tantangan terbesar yang harus dilakukan saat ini. Pertama, bagaimana memperkuat perekonomian agar bekerja secara optimal dengan cara mengurangi pengangguran dan menggali sumber daya alam yang belum dieksploitasi. Kedua, meningkatkan daya saing perekonomian dengan cara meningkatkan investasi asing dan domestik, salah satunya melalui pasar modal. Saat ini, katanya, perekonomian Indonesia masih ditopang dari sektor konsumsi karena turunnya daya saing Indonesia. Melemahnya daya saing itu terlihat pada 1993-1998, dari 30 komoditas yang diperdagangkan 28 positif dan 2 negatif. Tapi periode 1998-2003 dari 30 komoditas tersebut 22 diantaranya menjadi negatif dan 8 positif. "Ini menjelaskan daya saing kita merosot cukup banyak. Maka itu perlu usaha dengan cara memberesi regulasi, pemberian insentif dan modal agar komoditas yang ada kembali tumbuh," ujarnya. (nit/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads