"Semester I ini harus lebih bagus dibandingkan sebelumnya. Kalau dulu 37 ribu ton satu tahun, dibagi dua saja sekitar 18 ribu ton. Jadi lebih bagus dari itu, bisa mencapai 20 ribu ton," kata Direktur Utama Timah, Sukrisno, di sela-sela Indonesia Mining Update di Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (30/5/2012).
Menurutnya, produksi timah perseroan di awal tahun sempat menurun karena pengaruh musim ombak. Periode Desember hingga Maret, ombak membuat produksi Timah tidak maksimal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain ombak waktu itu memang ada konflik sosial dan kapal rusak. Servisnya belum selesai," tegasnya.
Ia berharap, kinerja laba dan penjualan tahun 2012 juga membaik, dimana sejak April lalu harga timah dunia sempat menurun. "Harga memang agak turun, tapi biasanya akan tinggi di semester II, dan kembali turun pada akhir tahun. Ini siklus. Bagaimana revenue-nya dan bottom line nanti tergantung harga," jelasnya.
Perseroan pun masih mengandalkan pasar luar negeri. Ia yakin 97% produksi timah akan diserap konsumen perseroan di Asia dan Eropa. "Kalau timah relatif stabil karena sudah jelas untuk industri. Permintaan akan tetap tinggi," imbuhnya.
(wep/ang)











































