Kontrak kerja Magnus Böcker sebagai CEO Singapore Exchange (SGX) baru saja diperpanjang untuk tiga tahun lagi. Kegagalan Böcker tahun lalu menggabungkan SGX dengan bursa efek Australia membuatnya lebih fokus pada pertumbuhan organik.
Hal itu dibuktikan dengan pengumuman tahun lalu bahwa SGX memperketat standar listing untuk menarik IPO yang lebih besar. Ketika ditanya apakah ada kemungkinan merger atau akuisisi, pria 50 tahun berkebangsaan Swedia ini mengatakan kedua hal itu tidak ada dalam agendanya.
Tidak sulit mengetahui alasannya. Meski SGX telah membangun bisnis terdiversifikasi di ekuitas, derivatif dan kliring, Böcker mengakui bursa efeknya masih kekurangan listing perusahaan besar untuk menarik perhatian investor berdagang di indeks Singapura.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Singapura juga sibuk melawan persepsi bahwa peraturan listingnya longgar. Ditambah adanya penyelidikan pemerintah terhadap empat dari 142 perusahaan China yang disebut sebagai S-chips terdaftar di SGX.
“Saya rasa kami (Singapura) punya isu sendiri, tak perlu diragukan lagi. Tapi jika kita membandingkan dengan AS atau Hong Kong, masalah mereka lebih banyak,” kata mantan eksekutif senior operator bursa efek Swedia, OM Gruppen ini.
Böcker tegas menolak pendapat apa pun bahwa Singapura telah melonggarkan regulasinya untuk menarik lebih banyak aktivitas bisnis. “Untuk pertama dan terakhir, saya ingin bilang bahwa hal itu tidak benar. Saya perlu menghilangkan mitos itu.”
Böcker menekankan bahwa bursa efek Singapura perlu standar listing yang lebih tinggi supaya para investor mempercayai perusahaan yang terdaftar di SGX. “Inilah satu-satunya jalan keluar jangka panjang yang terbaik,” katanya.
Gol utamanya adalah merebut bagian dalam proyeksi pertumbuhan di IPO-IPO Asia, lebih banyak lagi listing seperti IHH Healthcare, operator rumah sakit Malaysia yang prospektusnya ada di meja Böcker. Saham IHH akan mulai diperdagangkan pekan ini di Singapura berbarengan dengan bursa efek Kuala Lumpur.
Böcker mengharapkan ada 2.000 IPO setiap tahunnya di Asia pada 2020, mewakili 3/5 dari total IPO global. Angka ini naik dari sekitar 1.100 tahun lalu atau 2/5 dari angka global.
Meski rencana akuisisi besar-besaran tahun lalu gagal, Böcker tidak melepaskan ikatan erat produk dan jasa dengan bursa efek lain seperti London Stock Exchange misalnya. Bulan ini bursa Inggris dan Singapura mengonfirmasi bahwa mereka akan menawarkan perdagangan blue-chips satu sama lain.
“Saya rasa ada banyak kesempatan untuk bekerjasama dengan bursa lain termasuk LSE,” kata Böcker seraya menambahkan kalau kliring bursa Inggris, LCH.Clearnet merupakan partner alami. Sementara itu, pesaingnya di utara, Hong Kong Exchanges & Clearing mungkin sedang bersiap untuk akuisisi besar-besaran London Metal Exchange senilai 1,38 miliar poundsterling (Rp 20,7 triliun).
Namun Böcker berpendapat bahwa akuisisi ini bisa memberi efek samping yang baik untuk Singapura sebagai salah satu pasar komoditas besar. “Dari perspektif kami, hal ini lebih positif daripada status quo,” pungkas Böcker.
(/)











































