Peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan yang kuat. Laba bersih per saham meningkat sebesar 19,6% dari Rp 72 per lembar saham menjadi Rp 86 per lembar saham.
Â
"Kami gembira bahwa strategi pemasaran secara terfokus kembali membuahkan hasil yang positif sesuai harapan kami," kata Direktur Keuangan KLBF, Vidjongtius dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (31/7/2012).
Menurutnya, peningkatan penjualan terutama didorong oleh pertumbuhan volume yang baik. Hal ini seiring dengan kondisi pasar yang kondusif dimana peningkatan harga secara selektif dilakukan untuk mendorong pertumbuhan penjualan dan profitabilitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalbe membukukan peningkatan laba kotor sebesar 18,7% dan rasio laba kotor terhadap penjualan bersih menurun dari 52,1% pada semester pertama 2011 menjadi 49,1% pada tahun 2012.
Penurunan marjin laba kotor tersebut terutama disebabkan oleh perubahan komposisi bisnis pada tahun 2012 di mana kontribusi penjualan Divisi Distribusi dan Logistik meningkat dari 30% pada semester pertama 2011 menjadi 37% pada semester pertama 2012.
Meskipun kurs nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dan mata uang utama lainnya mengalami pelemahan dibandingkan tahun 2011, namun tren harga bahan baku relatif stabil dan Kalbe secara konsisten mampu menjalankan upaya pengendalian biaya produksi.
Â
Biaya operasional perseroan terdiri dari beban penjualan, beban umum dan administrasi serta beban penelitian dan pengembangan. Rasio beban penjualan terhadap penjualan bersih menurun 1,1% dari 27,8% ke 26,8% pada tahun 2012. Sementara itu rasio beban umum dan administrasi menurun dari 5,7% ke 5,0% pada tahun 2012.
Rasio beban penelitian dan pengembangan terhadap penjualan bersih stabil sebesar 0,8% pada semester pertama tahun 2012 dan 2011. Beban penjualan meningkat sebesar 21,3% sejalan dengan berbagai kegiatan pemasaran dan penjualan untuk mendorong pertumbuhan penjualan dalam jangka menengah dan panjang.
Â
Selain itu, Perseroan membukukan laba selisih kurs sebesar Rp 16 miliar pada semester pertama 2012, dibandingkan rugi selisih kurs sebesar Rp 15 miliar pada tahun 2011. Laba tersebut terutama disebabkan oleh cadangan dana Perseroan dalam mata uang Dolar AS dan dampak pelemahan nilai tukar Rupiah pada tahun 2012. Marjin laba sebelum beban pajak penghasilan pada tahun 2012 tercatat sebesar 17,4%, lebih rendah dibandingkan 18,3% pada periode yang sama tahun 2011.
(dru/ang)











































