Tersendatnya perdagangan saham Senin (27/8/2012) kemarin tentu merugikan banyak pihak. Investor kehilangan momentum trading sedangkan broker kehilangan komisi.
Padahal manajemen BEI telah menganggarkan Rp 94,9 miliar untuk penguatan infrastruktur perdagangan. Anggaran tersebut juga telah disepakati seluruh pemegang saham dalam RUPS.
Direktur Teknologi Informasi BEI, Adikin Basirun kala itu menjelaskan anggaran IT ini meningkat 7,4% dari tahun 2011 Rp 89,1 miliar. Sekitar Rp 75,7 miliar dialokasikan sebagai investasi bisnis. Sisanya sebagai pengembangan jaringan kantor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun depan (2012) sudah ada infrastruktur yang terintegrasi, dalam rangka mendukung Datawarehouse, Single Investor ID (SID)," tutur Adikin waktu itu.
Total anggaran investasi Bursa di 2012 tercatat Rp 140,37 miliar. Rencananya Bursa akan mengembangkan sistem perdagangan JATS atau JATS-RT (termasuk sistem perdagangan derivatif).
Investasi pengembangan disaster recovery centre AB sebagian besar juga telah direalisasikan pada tahun 2011, sehingga pada 2012 BEI lebih fokus pada investasi hardware.
Akibat erornya sistem perdagngan membuat pelaku pasar mengeluh. Menurut Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada, terjadi kerugian bagi perusahaan efek yang menjalankan brokerage.
Pergerakan IHSG pun terpantau stagnan akibat terkendalanya remote trading system. "Beberapa harga saham dinilai rendah, paska liburan minat investor cukup kuat untuk bertransaksi saham, namun sayangnya sistem remote trading," ucap Analis BNI Securities, Viviet S Putri.
(wep/ang)











































