Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tidak berkomentar banyak atas rumor yang menyatakan perusahaan diambang kebangkrutan. Kinerja negatif ini lebih banyak diakibatnya oleh transaksi derivatif.
Pendapatan terbukti mengalami peningkatan siap triwulannya. Total pendapatan perseroan mengalami kenaikan 8,6% dari US$ 1,792 miliar menjadi US$ 1,94 miliar.
Total volume penjualan batu bara juga meningkat 10,4% dari 29,3 juta ton menjadi 32,3 juta ton. 30% penjualan dikontribusikan pelanggan BUMI, Tata Power.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pendapatan kami hampir 9% lebih tinggi dibandingkan posisi tahun lalu," tambah Dileep.
Sebelumnya Analis Panin Sekuritas Fajar Indra mempublikasikan hasil analisanya terkait saham BUMI. Dengan kerugian yang dialami Rp 3 triliun di semester I-2012, perusahaan yang masuk dalam kelompok usaha grup Bakrie ini diambang kebangkrutan.
Beberapa faktor yang disinyalir menyebabkan jatuhnya performa BUMI itu, pertama adalah tergerusnya marjin laba BUMI diakibatkan melonjaknya biaya produksi per ton sebesar 9,2% yang tidak diimbangi oleh naiknya harga jual. Hal ini terjadi hampir di seluruh perusahaan batu bara di Indonesia, karena memburuknya harga batubara dunia.
Faktor kedua, tingginya beban keuangan yang harus dibayar serta kerugian atas transaksi derivatif. Laporan keuangan BUMI mencatat bahkan jumlah beban keuangan yang harus dibayar lebih tinggi dari laba usahanya sendiri.
"Hal ini tentunya memperlihatkan betapa buruknya solvabilitas BUMI dalam membayar utang-utangnya. Terlebih, media pagi ini merilis bahwa BUMI memperpanjang masa investasi dana senilai US$ 231 juta di PT Recapital Asset Management," ujarnya. (wep/ang)











































