Orang Kaya AS Siap Kembali Borong Saham

Orang Kaya AS Siap Kembali Borong Saham

Metta Pranata - detikFinance
Kamis, 06 Sep 2012 14:30 WIB
Orang Kaya AS Siap Kembali Borong Saham
Foto: Reuters
Jakarta - Sudah bukan berita baru kalau orang-orang kaya AS pesimis terhadap ekonomi, pemerintahan dan pajak di negaranya. Namun kini ada titik terang mengejutkan.

Mayoritas rencana orang-orang super kaya adalah membeli lebih banyak saham pada 12 bulan ke depan. Faktanya, saham mengalahkan aset lain dalam pilihan orang kaya menempatkan uangnya pada 2012.

Sebuah penelitian terbaru dari Spectrem Group yang mensurvey orang-orang bernilai US$ 25 juta atau lebih (tidak termasuk tempat tinggal utama) menemukan bahwa 62% berencana berinvestasi di saham pada 12 bulan ke depan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara 38% berencana membeli aset fixed income, 19% membeli surat utang negara dan 26% berinvestasi di hedge funds. Temuan ini bisa jadi dukungan kuat yang potensial untuk bursa saham. Tak lain karena “kaum 1%” ini memiliki lebih dari separuh saham milik individu se-AS. Responden survey memiliki rata-rata US$ 7 juta saham.

Survey menunjukkan bahwa 42% responden mengatakan ekonomi telah melewati masa buruk dan akan membaik dalam enam bulan ke depan. Kekuatiran nasional paling utama adalah keamanan dan kesejahteraan negara, diikuti oleh situasi politik dan pemilu mendatang. Ekonomi berada di peringkat keempat, diikuti oleh pajak dan bursa saham.

Kaum 1% itu lebih banyak menyimpan kekayaannya di perusahaan tertutup daripada saham publik. Mereka menyimpan 17% asetnya di perusahaan tertutup, naik 7% daripada tahun 2010. Kepemilikan saham mereka sudah berkurang hingga di bawah 10%.

Jadi kenapa kaum kaya AS membeli saham meski pesimis dengan ekonomi negara?

Presiden Spectrem, George Walper mengatakan periset tidak bertanya ke responden berapa banyak uang yang kaum kaya rencanakan taruh di saham. Spectrem hanya menanyakan, apakah mereka berniat membeli saham.

“Kelompok ini selalu berinvestasi di ekuitas, jadi ini hanya melanjutkan tren saja,” kata Walper, dikutip dari CNBC (6/9/2012). Tapi kesukaan mereka terhadap saham juga dipengaruhi oleh tingkat imbal hasil.

Obligasi dan pasar uang merupakan uang mati sekarang. Sebagai sebuah kelompok, golongan super kaya raya ini sangat agresif jika tentang imbal hasil uang mereka. Survey menemukan bahwa lebih dari 62% ingin imbal hasil tahunan atau 9% atau lebih.

Sementara 64% mengatakan mereka bisa melakukan lebih baik lagi daripada bursa saham. Dan hampir ¾ mengatakan berani ambil resiko sangat penting demi menambah kekayaan mereka. Kebutuhan akan imbal hasil itulah yang membuat orang-orang super kaya ini kembali saham, hedge funds dan alternatif lainnya.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads