Saham Semen dan Properti Dorong IHSG Naik 2,448 Poin

Saham Semen dan Properti Dorong IHSG Naik 2,448 Poin

- detikFinance
Rabu, 08 Sep 2004 16:17 WIB
Jakarta - Pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Rabu (8/9/2004), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 2,448 poin pada level 789,135. Kenaikan indeks lebih banyak didorong oleh saham-saham semen dan properti, karena investor masih melakukan konsolidasi terhadap saham-saham unggulan (bluechips).Indeks LQ-45 yang terdiri dari 45 saham yang paling aktif diperdagangkan naik 1,006 poin pada level 171,513, Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,706 poin pada level 131,602, Indeks Papan Utama (MBX) naik 0,792 poin pada level 210,148 dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) naik 0,398 poin pada level 184,547.Perdagangan di pasar reguler mencatat frekuensi transaksi sebanyak 18.469 kali pada volume 2.695.819 lot saham senilai Rp 701,735 miliar. Sebanyak 77 saham mencatat kenaikan harga, 34 saham mengalami penurunan harga dan 267 saham lainnya stagnan.Saham-saham yang mencatat kenaikan harga di jajaran top gainer di antaranya Indocement (INTP) naik Rp 100 menjadi Rp 1.850, Indah Kiat Pulp and Paper (INKP) naik Rp 50 menjadi Rp 775, Summarecon Agung (SMRA) naik Rp 50 menjadi Rp 625, Adhi Karya (ADHI) naik Rp 35 menjadi Rp 450 dan Indosat (ISAT) naik Rp 25 menjadi Rp 4.225.Sedangkan saham yang mengalami penurunan harga di deretan top loser antara lain Astra Internasional (ASII) turun Rp 50 menjadi Rp 6.550, Bank BNI (BBNI) turun Rp 25 menjadi Rp 1.175, Bank Permata (BNLI) turun Rp 25 menjadi Rp 975, Timah (TINS) turun Rp 25 menjadi Rp 2.100 dan Energi Mega Persada (ENRG) turun Rp 10 menjadi Rp 375.Saham-saham dari sektor semen, properti dan infrastruktur mampu menopang kenaikan indeks pada perdagangan saham hari ini. Pasalnya, di sektor properti dan infrastruktur terus mengalami pertumbuhan, dimana harga rumah naik rata-rata 10 persen akibat kenaikan bahan baku seperti semen. Kenaikan semen itu juga mengakibatkan biaya pembangunan infrastruktur akan meningkat, terutama dialami oleh emiten-emiten terkait. (ani/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads