Menggunakan batik, Ari Hudaya berkomunikasi dengan investor, wartawan serta analis saham yang memadati paparan publik insidental ini. Menurutnya, Bumi Resources dahulu bukan perusahaan apa-apa, hingga mampu memproduksi 63,3 juta ton hingga akhir tahun lalu.
"Dulu waktu saya dipercaya menjalankan, punya ambisi atau cita-cita (BUMI) menjadi perusahaan energi tambang di dunia, kalau bisa melalui Arutmin dan KPC (Kaltim Prima Coal)," cerita Ari Hudaya. Arutmin dan KPC merupakan anak usaha BUMI yang memiliki areal tambang terbesar di Kalimantan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pencapaian ada saat ini, apakah cukup? Ari dengan tegas menjawab, Tidak. Menurutnya, akan banyak intrik yang terjadi. Termasuk dalam rangka perebutan aset nasional tersebut.
"Perjalan yang tidak mudah ini, akan penuh intrik. Bayangkan, (BUMI) memiliki sumber yang sangat besar dan dekat dengan pantai. Yang seperti ini tidak banyak. Semua ada di BUMI," tutur Ari.
Memiliki sumber tambang besar di Kalimantan pun tidak membuat mantan CEO Bumi Plc ini puas. "Dengan visi tersebut, kami manajemen jadi pemain batu bara terbesar. Nah, salah satu ambisinya adalah punya satu base di Sumatera, selain Kalimantan. Kami sebut Sumatera Coal, Kalimantan Coal," tegasnya.
Tambang Bumi Resources, bagi Ari, adalah aset nasional. Peningkatan kinerja yang BUMI capai, bukan kerja keras seorang Ari Hudaya sendirian. "Ada manajemen yang kuat. Karyawan memiliki passion, dari produksi kecil sampai besar sampai dengan sekarang," jelasnya.
(wep/ang)











































