Pihak AS melalui Menteri Luar Negeri Hillary Clinton menyatakan, pemerintah Iran harus bertanggung jawab atas kejatuhan nilai mata uangnya.
Menurut Hillary, kebijakan embargo minyak Iran yang dilakukan AS dan Eropa akibat program nuklir pemerintah Iran, menyebabkan kondisi ekonomi Iran jatuh, termasuk mata uangnya yakni rial.
"Saya kira, pemerintah Iran pantas bertanggung jawab atas apa yang terjadi," kata Hillary dikutip dari AFP, Kamis (4/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratusan polisi anti huru-hara diterjunkan ke lokasi untuk mengantisipasi meluasnya unjuk rasa. Mereka menjaga sejumlah kantor penukaran mata uang asing, menangkap para agen penukaran uang ilegal, dan memerintahkan sejumlah money changer dan toko untuk tutup demi alasan keamanan.
"Tujuan kami adalah agar rezim di Iran mau bernegosiasi secara serius dan dengan niat baik bersama komunitas internasional, mau menghentikan program nuklir," jelas Hillary.
Hillary menyatakan, sanksi embargo dari AS dan Eropa ini bakal mempengaruhi ekonomi Iran. Kondisi ini bisa dipulihkan asalkan pemerintah Iran mau bekerja sama.
Memang kondisi politik antara negara Barat dengan Iran tengah tegang terkait program nuklir Iran. Pemerintah di Teheran menyatakan, program nuklir yang dibuat adalah untuk kebijakan kesejahteraan masyarakat.
Sebelumnya, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad tak mau menyerah kepada Barat meskipun mata uang rial jatuh. Ahmadinejad menyatakan, 'perang psikologis' di pasar uang tidak membuat Iran terpojok dan menghentikan aktivitas nuklirnya.
"Kami bukan orang yang menyerah pada isu nuklir. Jika ada orang yang berpikir mereka bisa menekan Iran, mereka salah dan mesti merubah cara berpikirnya," tegas Ahmadinejad.
Pemerintah Iran menyatakan masih mempunyai cadangan devisa yang mencukupi untuk menahan kejatuhan mata uangnya. Tahun lalu, jumlah cadangan devisa Iran mencapai US$ 100 miliar karena ekspor minyak yang tinggi.
Tapi pendapatan Iran saat ini berkurang akibat sanksi dari AS dan Eropa.
Pada Senin lalu, nilai mata uang Iran rial turun menjadi 34.700 per dolar AS, dari sebelumnya hanya 29.600 per dolar AS.
Akibat gejolak ini, para pelaku pasar uang di Teheran menyatakan penurunan rial ini akan lebih dalam, bahkan mencapai 38.000-40.000 per dolar AS. Para pelaku pasar uang enggan diwawancara karena isu politik yang sensitif di Iran.
Pemerintah Iran memang menyalahkan spekulator menjadi biang kerok jatuhnya nilai mata uang tersebut. Bahkan ada pelaku pasar gelap yang mencoba menjatuhkan nilai mata uang Iran.
Seorang pejabat dari AS menyatakan, penurunan nilai mata uang Iran ini adalah hasil kesuksesan dari sanksi internasional yang dilakukan AS akibat penolakan terhadap program nuklir di Iran.
"Ini memperlihatkan kesuksesan tekanan internasional yang kami kepada ekonomi Iran," ujar pejabat tersebut. (dnl/ang)










































