Kepanikan Mereda, IHSG Hanya Turun 6,485 Poin
Kamis, 09 Sep 2004 16:19 WIB
Jakarta - Kepanikan yang mulai mereda pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) hari ini, Kamis (9/9/2004), membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya turun 6,485 poin pada level 782,650. Penurunan indeks tertinggi hari ini sempat mencapai 31,857 poin di posisi 757,278, akibat kekhawatiran investor terhadap ledakan bom di dekat Kedubes Australia.Indeks LQ-45 yang terdiri dari 45 saham yang paling aktif ditransaksikan turun 2,510 poin pada level 169,003, Jakarta Islamic Index (JII) turun 2,158 poin pada level 129,444, Indeks Papan Utama (MBX) turun 2,524 poin pada level 207,624 dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 0,531 poin pada level 184,016.Perdagangan di pasar reguler berlangsung sangat ramai dan mencatat frekuensi transaksi sebanyak 36.190 kali pada volume 8.122.122 lot saham dengan nilai mencapai Rp 2,388 triliun. Sebanyak 30 saham mencatat kenaikan harga, 113 saham mengalami penurunan harga dan 235 saham lainnya stagnan.Saham-saham yang mengalami penurunan harga terbesar di jajaran top loser antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 300 menjadi Rp 12.950, Telkom (TLKM) turun Rp 200 menjadi Rp 7.950, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 100 menjadi Rp 5.350, Unilever (UNVR) turun Rp 75 menjadi Rp 3.400, Bank BCA (BBCA) turun Rp 50 menjadi Rp 1.850 dan Summarecon Agung (SMRA) turun Rp 25 menjadi Rp 600.Di deretan top gainer, saham-saham yang mencatat kenaikan harga tertinggi di antaranya Semen Gresik (SMGR) naik Rp 600 menjadi Rp 10.600, Bank BRI (BBRI) naik Rp 75 menjadi Rp 1.875, Indah Kiat Pulp and Paper (INKP) naik Rp 50 menjadi Rp 825, Timah (TINS) naik Rp 50 menjadi Rp 2.150, Indocement (INTP) naik Rp 50 menjadi Rp 1.900 serta Energi Mega Persada (ENRG) naik Rp 5 menjadi Rp 380.Pada perdagangan sesi kedua hari ini, investor sudah mulai mengurangi penjualan saham-saham unggulan. Hal ini terutama dilakukan investor asing, dimana pada sesi kedua justru mereka mulai melakukan net buying.Meredanya panic selling tersebut karena investor melihat masih ada potensi indeks untuk naik, terutama menjelang pilpres putaran kedua 20 September mendatang. Selain itu, faktor fundamental ekonomi Indonesia juga cukup baik.Investor juga mulai rasional, dimana pada sesi pertama menjual saham secara besar-besaran, namun pada sesi kedua mereka mulai berpikir ke arah sentimen untuk mengantisipasi pilpres putaran kedua.
(ani/)











































