Menurut Direktur Utama BEI, Ito Warsito, penghilangan nilai 0 dalam rupiah menjadikan sistem perdagangan berjalan lebih efisien. Proses settlement atau turn around transacation diharapkan juga semakin cepat, yang kini berlaku T+3.
"Transaksi kita per hari 120.000 per hari, transaksi Rp 4 triliun per hari. Kalau menghilangkan tiga nol, tentu ukuran file-nya jauh lebih kecil," kata Ito di kantornya, Jakarta, Jumat (2/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak contoh sukses redenominasi sukses dijalankan beberapa negara. Turki salah satunya, yang melakukan redenominasi dengan menghilangkan 6 angka nol pada mata uangnya. Jadi redenominasi yang dilakukan Turki adalah mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 lira pada tahun 2005.
Namun redenominasi yang dilakukan Turki ini berbeda dengan yang akan dilakukan Indonesia. Seperti dikutip dari situs bank sentral Turki, kebijakan redenominasi ini dilakukan untuk menekan laju inflasi Turki yang sangat tinggi sejak tahun 1970-an. Inflasi yang tinggi ini menyebabkan nilai ekonomi di negara belahan Eropa tersebut mencapai hitungan triliun, bahkan kuadriliun.
Sebelumnya Perbanas menyatakan dukungannya kepada ide Bank Indonesia (BI) ini. "Itu akan banyak manfaatnya, orang akan lebih mudah bertransaksi, nolnya berkurang tiga," kata Sigit kemarin.
Redenominasi menjadikan masyarakat simple dalam bertransaksi. "Di struk transaksi belanja juga lebih simpel, banyak positifnya," tegas Sigit yang kembali terpilih menjadi Ketua Perbanas.
(wep/ang)











































