Perusahaan pelat merah itu menyasar negara ASEAN, yakni Myanmar bagian selatan, untuk melakukan eksplorasi produk tambang jenis tin ingot. Emiten berkode TINS itu menyiapkan dana US$ 18 juta.
"Harus go internasional seperti (BUMN) yang lain. Di Myanmar belum banyak investor yang masuk ke situ. Ada peluang di sana," tutur Dirut Timah Sukrisno di Hotel Grand Sahid Jakarta, Rabu
(21/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sukrisno menambahkan, saat ini pihaknya masih memenuhi dan melengkapi berbagai persyaratan atas rencana ekspansinya di Myanmar. Namun, Timah saat ini sudah mendapat izin prinsip konsesi lahan pertambangan mencapai 10 hektar di negara tersebut.
"Izin prinsip di Menteri Energi Myanmar. Sepuluh ribu hektar. Minggu depan akan datang ke situ," tambahnya.
Untuk rencana ekspansinya di Myanmar, Timah siap menggelontorkan anggaran hingga US$ 18 juta. Nantinya, kata Sukrisno, baru di 2014 pihaknya bisa memulai aktivitas komersial.
"Tahun 2014 kita sudah mulai ekploitasi. Awal kita punya kewajiban perusahaan ke pemerintah (Myanmar). Soal pembebasan lahan termasuk di situ," pungkasnya.
(hen/ang)











































