Perseroan akan menerapkan strategi penjualan batubara berkalori tinggi untuk pasar ekspor, dan pengalihan pemakaian daya listrik ke PLTU milik sendiri, dari sebelumnya menggunakan daya listrik milik PLN.
"Dengan demikian, kami berpeluang memperoleh pendapatan dan laba bersih yang cukup baik," kata Milawarma dalam acara Investor Summit di Jakarta, Rabu (28/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Milawarma juga mengatakan soal pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Tanjung Enim (Sumsel 8). Pembangunan belum dilakukan karena menunggu pencairan utang dari China Development Bank US$ 1,13 miliar atau 75% dari kebutuhan investasi US$ 1,59 miliar.
"Diharapkan awal tahun depan pembangunan konstruksi bisa dimulai," tuturnya. Proyek ini dikelola oleh PT Huandian Bukit Asam Power, anak usaha PTBA hasil joint dengan Huadian.
Selain itu, proyek PLTU mulut tambang 3x10 megawatt (MW) yang tuntas September ini telah memberi efisiensi yang cukup signifikan bagi operasi penambangan perseroan. Apalagi bahan bakar yang digunakan PLTU tersebut merupakan jenis yang tidak layak jual (fine coal).
"Dari total daya listrik yang dihasilkan pembangkit tersebut, sebanyak 24 MW digunakan untuk kebutuhan sendiri," tuturnya. Sisanya sebanyak 6 MW dijual ke PLN dengan harga Rp 787,2/KWh.
(wep/dnl)











































