"Global bonds masih, mudah-mudahan (tahun 2013) bisa," ucap Investor Relation ENRG, Herwin Hidayat di Jakarta, Selasa (4/12/2012).
Ia menjelaskan, penerbitan surat utang dalam dolar AS adalah upaya perseroan menekan biaya bunga dari utang sebelumnya. Refinancing akan dilakukan untuk menutup dua pinjaman dari perbankan, yaitu US$ 222 juta atau setara Rp 2,01 triliun dari ND Owen Holdings Limited, dan US$ 200 juta (Rp 1,813 triliun) dari Credit Suisse Singapura.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bunga bank sekitar 13% dan 18%. Kalau ini diterbitkan refinancing menjadi lebih baik," tambahnya.
Sebagai catatan, Credit Suisse dan Owen menjadi dua bank yang mengutangi ENRG paling besar. Lebih dari 50% utang jangka panjang perseroan berasal dari mereka, dari total sekitar Rp 5,034 triliun.
Selain itu, perseroan tercatat memiliki pinjaman dari tiga pihak diantaranya Japan Petroleum Exploration Co., Ltd. Rp 1,51 triliun, Kangean Finance Company, Jepang Rp 1,39 triliun dan Mitsubishi Corporation Rp 118,44 miliar.
Menurut Herwin, rencana perseroan untuk menambah modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement belum terlaksana, karena penyelenggaraan RUPS hari ini, tidak tercapai kuorum. Padahal salah satu agenda rapat adalah persetujuan non-HMETD.
Sebelumnya manajemen berencana menerbitkan saham baru sekitar 4,058 miliar lembar, dengan target harga Rp 186 per lembar. Dana hasil penerbitan saham baru ini akan dipakai untuk memperbaiki posisi keuangan perusahaan.
Namun dalam beberapa bulan terakhir saham ENRG terus merosot dan kini terkapar pada level Rp 73 turun 1,35% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Jika aksi ini berjalan lancar maka pemegang saham publik terdilusi 9,09% dari sebelumnya 67,64% menjadi 61,49%.
Herwin juga tak lupa menyampaikan, paska akusisi CNOOC ONWJ Ltd. yang menguasai 36,7% kepemilìkan di blok Offshore Northwest Java PSC (ONWJ), kinerja perseroan terus melaju. Perseroan bahkan percaya diri total pendapatan di 2012 bisa melebihi US$ 350 juta, atau naik dari pencapaian tahun sebelumnya US$ 245 juta.
Pendapatan ENRG juga tahun depan tumbuh menjadi US$ 600 juta. Kenapa bisa demikian? Tidak lain karena peningkatan produksi pada ONWJ.
Di saat perseroan mengakuisisi kepemilikan blok dari CNOOC jatah produksi yang menjadi haknya 23.000 barel ekuivalen per hari (berdasarkan 36,72% kepemilikan). Sedangkan tahun depan, seiring produksi yang meningkat, hak ENRG juga berlipat.
Total jatah yang menjadi hak anak usaha grup Bakrie ini mencapai 55.000 barel ekuivalen per hari.
(wep/ang)











































