Hal tersebut merujuk pada pengalaman emiten berkode WIKA ini, ketika mengerjakan proyek di Libya.
"Kita lihat risiko, di Timur Tengah, risiko luar negeri lebih tinggi. Kalau ada masalah, seperti di Libya, tarik 200 orang aja susah," tutur Corporate Secretary WIKA Natal Agrawan di Merah Delima Cafe Jakarta Selatan, Senin (7/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
WIKA sendiri bersama Indonesia Incorporated telah memiliki kantor perwakilan di Myanmar dan Irak namun hingga saat masih belum beroperasi.
"Di Irak sudah punya kantor tapi belum dapat kerjaan, Pertamina di sana akan ekspor Irak. Dari uang itu akan dapat pendanaan untuk mendanai proyek. WIKA akan men-support Pertamina bangun infrastruktur," tambahnya.
Seperti diketahui, Wijaya Karya akhirnya menyerah dan berencana melepaskan proyek bersama perusahaan lokal Libya, Solar Sahara Investment dalam pembangunan mal di negara tersebut senilai US$ 11,6 juta. Konflik yang tak kunjung reda membuat WIKA merasa kesulitan untuk menyelesaikan proyek tersebut.
(hen/ang)











































