Namun, Ekonom Senior PT Indo Premier Securities Seto Wardono menilai, melemahnya nilai tukar tersebut malah dianggap bagus karena bisa mendorong kenaikan ekspor dan mengurangi impor.
"Rupiah di tahun 2013 akan mengalami tekanan seperti pada September 2012. Hal itu disebabkan karena current account mengalami defisit," kata Seto kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (8/1/13).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Current account kita masih defisit di 2013. Ini menjadi salah satu Rupiah melemah. Ini masalah sentimen saja. Kalau lihat dari sisi bank sentral atau pemerintah, saya pikir dengan ekspor kita yang defisit malah mendorong Rupiah melemah," ujarnya.
"Dari sisi lain kita enggak bisa mengharapkan capital inflow untuk periode sebelumnya yang meningkat. India dan Cina lebih murah dari Indonesia. Tahun depan ekonomi mereka akan mengalami percepatan. Kelihatannya dana akan lebih mengalir ke sana," paparnya.
Dia juga memprediksi, tahun ini inflasi masih akan tetap di angka 5,75%. Inflasi tersebut disumbang dari kenaikan TDL, UMP, dan ΠΠΠ.
"Kenaikan tarif listrik sebesar 20% menyumbang kenaikan 0,5% inflasi. Konsumsi dan inflasi masih kuat di Indonesia dengan penjualan mobil dan ritel, masih 2 digit ini menunjukkan masih kuat konsumsinya," kata Seto.
(ang/ang)











































