IHSG Masih akan Ciptakan Rekor-rekor Baru
Sabtu, 02 Okt 2004 11:34 WIB
Jakarta - Maraknya pasar saham yang terjadi belakangan ini dengan masuknya dana asing memberikan peluang terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) menciptakan rekor-rekor baru dalam sejarah bursa saham di Indonesia. Pekan depan terbuka potensi indeks menuju level 845, setelah pada penutupan Jumat,(1/10/2004) berada di level tertingginya 835,905."Indeks saham masih akan ciptakan rekor baru, dan terbuka potensi pekan depan IHSG ke level 845 sebagai resistance (batas atas) dengan titik support (batas bawah) 824. Walaupun untuk awal pekan akan terjadi konsolidasi dulu dengan tren menguat, makanya pergerakan indeks akan variatif," kata Fendi Susianto, analis dari PT BNI Securities, Sabtu,(2/10/2004).Penguatan indeks itu menurut Fendi, lebih banyak dipengaruhi faktor global seperti harga minyak dunia yang mulai turun dari level tertingginya tahun ini US$ 50,47 per barel meskipun pada akhir pekan ini hanya turun 0,8 persen. Hal ini karena spekulasi harga minyak mereda setelah adanya kesepkatan untuk menyelesaikan kerusuhan di Nigeria yang merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia. Selain itu juga ada harapan pertemuan negara G7 yang dimulai pada 1 Otober 2004 memberikan solusi untuk membahas masalah harga minyak."Kondisi ini akan membuat bursa global kembali bergairah yang akan berdampak juga pada bursa-bursa di Asia serta Indonesia, karena kepercayaan investor internasional kembali muncul," kata Fendi.Membaiknya bursa global itu kata Fendi, akan dimanfaatkan oleh investor lokal dengan menggunakan momentum pengumuman kabinet SBY sebagai sentimen positif di dalam negeri. "Meskipun sebenarnya yang lebih berpengaruh itu adalah faktor global, karena pasar sudah mengantisipasi nama-nama di kabinet SBY yang sudah banyak beredar," ujarnya. Pulihnya kepercayaan investor internasional itu juga kata Fendi tidak terlepas dari membaiknya pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal 2-2004 sebesar 3,3 persen yang jauh lebih tinggi dari ekspektasi semula 2,8 persen per tahun. "Karena eknomi AS adalah motivator bergairahnya ekonomi dunia," kata Fendi.Apalagi kata Fendi, pemilu yang terjadi di Asia mulai dari Thailand, Filipina, Malaysia dan Indonesia berjalan aman, yang membuat dana asing kembali mengalir ke emerging market (pasar di negara berkembang). Asing diperkirakan masih akan memburu saham-saham sektor pertambangan, perkebunan, perbankan dan alat berat. Menurut Fendi, investor asing sebenarnya telah memiliki kepercayaan bahwa siapapun presidennya baik Megawati atau SBY potensi ekonomi Indonesia kedepan akan terus membaik. Ini juga terlihat dari terkendalinya suku bunga, rupiah dan inflasi. Untuk inflasi sedikit mengalami perbaikan dimana per September 2004 tercatat sebesar 0,02 persen lebih rendah dibanding bulan Agustus 2004 yang sebesar 0,09 persen.
(ir/)











































