4 Perusahaan Leasing akan Emisi Obligasi Rp 2 Triliun
Senin, 04 Okt 2004 13:08 WIB
Jakarta - Empat perusahaan pembiayaan (leasing) kembali akan menerbitkan obligasi Rp 1-2 triliun untuk tahun 2004. Pencarian dana baru tersebut terkait dengan tingginya pembiayaan konsumen, terutama untuk otomotif. "Faktor permintaan otomotif yang tinggi membuat perusahaan pembiayaan mencari pendanaan, baik melalui pinjaman bank ataupun penerbitan obligasi. sampai akhir tahun 2004 masih akan ada empat perusahaan pembiayaan yang akan menerbitkan obligasi Rp 1-2 triliun," kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Susilo Sudjono yang juga merupakan Dirut Surya Artha Nusantara Finance di Graha Niaga, Jakarta, Senin (4/10/2004). Namun ia menolak menjelaskan nama perusahaan pembiayaan tersebut.Saat ini anggota APPI mencapai 124 anggota, 75 persennya merupakan perusahaan pembiayaan yang bergerak di bidang otomotif. Hingga akhir 2004 Susilo memperkirakan jumlah total pembiayaan dari perusahaan pembiayaan mencapai Rp 70-80 triliun atau rata-rata tiap tahun tumbuh 15-20 persen. Demikian pula untuk 2005, pertumbuhan perusahaan pembiayaan diperkirakan masih bisa mencapai 15-20 persen. KOndisi ini bisa dicapai dengan syarat harga minyak tidak melebihi US$ 50 per barel."Kalau harga minyak naik akibat ada peningkatan konsumsi di India dan Cina, harga minyak tahun depan bisa naik sampai US$ 60-80 per barel. Ini yang ditakutkan karena bisa mengancam pertumbuhan ekonomi dan perusahaan di seluruh dunia," kata Susilo. Namun, lanjutnya, pihaknya berharap hal itu tidak terjadi sehingga pertumbuhan tetap tinggi karena konsumsi otomotid di Indonesia masih rendah.Menurutnya hal tersebut bisa dilihat dari perbandingkan sesama anggota ASEAN, seperti Thailad yang membutuhkan 600.000 kendaraan dengan penduduk yang hanya 50 juta. Sedangkan di Indonesia dengan jumlah penduduk 200 juta, kebutuhan mobil tahun ini hanya 420.000 unit. Saat ini rata-rata perusahaan pembiayaan memberikan tingkat bunga untuk mobil 15-17 persen dan motor 20-25 persen, terutama wilayah Jabotabek. Sementara di luar Jawa, bisa lebih tinggi dari 2 persen dibandingkan Jabotabek.Pada kesempatan yang sama Chairman and CEO Amembal & Associates, USA, Sudir P. Amembal mengatakan saat ini terjadi trend perbankan mengakuisisi perusahaan pembiayaan. Hal tersebut juga terjadi di Indonesia dalam setahun terakhir. Akusisi itu sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan dana segar, selain IPO. Namun di Amerika hanya sedikit perusahaan pembiayaan yang melakukan IPO karena mereka dapat dengan mudah memperoleh pinjaman akibat tidak ada pembatasan debt to equity ratio (DER). Sementara di Indonesia ada ketentuan perusahaan pembiayaan, bahwa DER maksimal 15 kali untuk pinjaman dari luar negeri dan 10 kali dari pinjaman dalam negeri. "Yang jelas meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap finance, seperti otomotof tidak akan membuat buble ekonomi, tapi malahan mendukung asal dijalankan dengan prudent," kata dia.
(nit/)











































