Salah satu perusahaan tambang milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), mencatat rugi sebesar US$ 29,71 juta (Rp 282,2 miliar) di 2012, dibandingkan laba di tahun 2011 sebesar US$ 77,96 juta (Rp 740,6 miliar.
Kerugian ini diakibatkan kontribusi laba bersih dari salah satu anak usaha perseroan, PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), yang mengalami penurunan.
"Hal tersebut dikarenakan oleh penurunan produksi yang bersifat sementara di lokasi tambang Batu Hijau (PT NNT) yang disebabkan oleh pengembangan fase 6 yang tengah berlangsung," kata manajemen BRMS dalam keterangan tertulisnya yang dikutip detikFinance, Selasa (2/4/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas pengembangan fase 6 itu, produksi emas dan tembaga BRMS jadi menyusut di 2012. Produksi tembaga tercatat menyusut dari 273 juta lb menjadi 157 juta lb. Sedanngkan emas jadi hanya 68.000 oz dari sebelumnya 308.000 oz.
"Setelah pengembangan fase 6 dapat diselesaikan, NNT diharapkan dapat meningkatkan produksinya secara signifikan di tahun 2013," katanya.
BRMS adalah perusahaan tambang mineral yang tercatat di Bursa Efek lndonesia (BEI). Melalui beberapa anak perusahaannya, BRMS mengoperasikan 18% kepemilikan di NNT (tambang tembaga dan emas), 80% kepemilikan di Dairi Prima Mineral (tambang seng dan timah hitam di Sumatera Utara), dan 80% kepemilikan di Gorontalo Minerals (tambang tembaga dan emas di Gorontalo, Sulawesi).
(ang/hen)











































