Ketua Umum Asosiasi Pedagang Valuta Asing (PVA), Idrus Muhammad mengatakan sejak pekan lalu volume transaksi meningkat dari hingga 50%. Peningkatan akan terus berlanjut selama rupiah masih terus melemah.
"Memang kalau volume transaksi cukup tinggi. Banyak masyarakat yang menukarkan dolarnya. Minggu lalu 40-50% kenaikan volume transkasi. Lebih banyak karena mungkin penyebabnya adalah momentum," ungkap Idrus kepada detikfinance, Rabu (28/8/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kayanya itu kebanyakan untuk kebutuhan masyarakat secara pribadi yang manfaatkan saat terjadi pelemahan, makanya voume transaksi naik. Tapi tidak seluruh tempat ya, hanya di beberapa yang biasanya orang datang kan yang secara aksesnya lebih mudah," jelasnya
Sementara untuk pembelian dolar, menurut Idrus lebih sedikit, meskipun semakin menguat. Ia menilai masyarakat sudah cukup bijaksana dalam hal ini.
"Masyarakat sekarang lebih bijaksana, karena tahun 2008 lalu saat terjadi pelemahan rupiah itu banyak yng borong dolar. Sekarang gak ada itu. jadi tidak ada kepanikan dan dari antisipasi pemerintah jauh lebih cepat," sebut Idrus.
Untuk money changer sendiri, Idrus mengaku cukup mendapat keuntungan, yaitu naik secara rata-rata sekitar 5-10%. Menurutnya, ini adalah dampak positif pelaku usaha di sektor jasa penukaran uang.
"Di satu pihak teman-teman pedagang valas menerima keuntungan. Walaupun sebenarnya cukup membahayakan karena berdampak buruk untuk sektor lain. Untuk pendapatan meningkat 5-10%," jawabnya.
Ia juga mengakui adanya kesengajaan pelebaran split dari 10-20 poin menjadi 30-40 poin. Menurut Idrus, itu bertujuan untuk antisipasi jika dalam waktu mendadak rupiah menguat.
"Kita memang sengaja untuk split diperlebar. Dari 10-20 poin sekarang menjadi 30-40 poin. Itu untuk mewaspadai tiba-tiba rupiah menguat. terjadi keuntungan dibanding hari-hari yang rupiahnya stabil," ucapnya.
(mkj/ang)











































