Dankos Fokuskan Pembayaran Utang Obligasi

Dankos Fokuskan Pembayaran Utang Obligasi

- detikFinance
Rabu, 03 Nov 2004 12:42 WIB
Jakarta - Perusahaan farmasi PT Dankos Laboratories Tbk (DNKS) akan memfokuskan semua dana yang ada untuk pembayaran obligasi senilai Rp 191 miliar yang akan jatuh tempo pada 12 Oktober 2005. Akibatnya, perseroan belum akan membuat pabrik baru atau ekspansi yang terlalu besar sampai tahun depan."Semua dana yang ada digunakan untuk pembayaran obligasi, kalau ada yang mau jual obligasinya lebih cepat itu lebih baik tapi sampai sekarang tidak ada yang mau jual," kata Presdir Dankos, Herman Widjaja usai publik ekspose yang berlangsung di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Rabu,(3/11/2004).Menurut Herman, karena perseroan akan fokus terhadap pembayaran obligasi itu, maka sampai tahun depan tidak akan ada pembangunan pabrik obat baru atau ekspansi yang terlalu besar. Sampai September 2004, total biaya investasi (capital expenditure/capex) yang telah dikeluarkan Rp 24,3 miliar. Sedangkan sampai akhir tahun 2004 diperkirakan mencapai Rp 40 miliar yang semuanya merupakan dana internal.Sampai September 2004 penjualan Dankos mencapai Rp 1,002 triliun sedangkan periode satu tahun 2003 sebesar Rp 1,191 triliun. Laba bersih sampai September 2004 sebesar Rp 160,7 miliar sedangkan periode satu tahun 2003 sebesar Rp 125,5 miliar. Menurut Direktur Keuangan Dankos Justian Sumardi, pertumbuhan sampai September 2004 sebsar 14,5 persen sedangkan target sampai akhir tahun sebesar 10-12 persen. "Tapi sampai akhir tahun kita tetap konservatif pertumbuhan 10-12 persen dan tidak ada revisi target, karena untuk kuartal keempat kemungkinan kinerja tidak seperti kuartal ketiga," kata Justian.Kontribusi penjulan Dankos sebesar 70 persen dari OTC (Over The Counter) atau obat-obat bermerek seperti Extra Joss, Mixagrip, Komix, Sakatonik, Mixadin, Fatigon,Puyer Bintang Toedjoe. Sisanya sebesar 20,7 persen dari obat ethical (resep dokter) dan 3,3 persen dari kontrak produksi. Menurut Herman, Dankos tetap akan mempertahankan jumlah OTC karena tradisi masyarakat Indonesia yang melakukan pengobatan sendiri masih cukup tinggi. (djo/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads