"Iya, tapi itu sifatnya sementara," kata Agus di sela-sela acar Gerakan Ekonomi Syariah, di Monas, Jakarta, Minggu (17/11/2013)
Mantan menteri keuangan ini mengatakan faktor yang mempengaruhi rupiah saat ini adalah faktor eksternal dan internal. Menurutnya faktor internal tak terlalu signifikan karena sudah ada perbaikan misalnya dari sisi transaksi berjalan yang sudah sedikit membaik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi yang memang banyak berpengaruh adalah faktor eksternal, dan faktor eksternal itu terutama di 3 hal, yaitu ada rencana Amerika untuk mengurangi stimulus moneternya dan juga ada kondisi harga-harga komoditi yang masih terkoreksi di 2013, dan juga hasil ekspor Indonesia yang menurun," katanya beralasan.
Selain itu adanya kecenderungan negara-negara maju, sudah lebih baik ekonominya, sedangkan dari negara-negara berkembang termasuk China, India cenderung menurun pertumbuhan ekonominya.
"Nah, kondisi itu yang banyak berpengaruh terhadap kondisi nilai tukar rupiah," katanya.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin tak menentu usai pengumuman BI Rate yang dinaikkan jadi 7,5%. Seperti tahun 2009, dolar kembali ke level Rp 11.600.
Rabu lalu dolar diperdagangkan di kisaran Rp 11.590 setelah beberapa jam sebelumnya menyentuh level tertingginya di Rp 11.670.
Dalam 4 tahun terakhir, dolar tidak pernah mencapai level tersebut kecuali pada tahun 2009. Tepatnya 27 Maret 2009 lalu, dolar diperdagangkan di Rp 11.600.
Kenaikan BI Rate ini secara langsung mengakibatkan rupiah melemah terhadap dolar. Beberapa analis berpendapat, rupiah dengan sengaja dibuat melemah untuk menekan defisit transaksi berjalan.
(rrd/hen)











































