Untuk tahun 2014, Bank Indonesia (BI) akan menjaga rupiah sesuai dengan fundamentalnya. Selama defisit perdagangan masih terjadi tentu saja akan membawa dampak buruk untuk nilai tukar.
"Kalau nilai tukar betul yang ada sangat tergantung fundamental ekonomi Indonesia dan ini maksudnya adalah eksternal dan internal. Kalau defisit masih terjadi mulai dari transaksi berjalan, fiskal, perdagangan, hingga pangan, tentu dampaknya kepada nilai tukar melemah," ungkap Gubernur BI Agus Marto dalam konferensi pers di kantor pusat BI, Jakarta, Kamis (9/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau liat trend yang membaik tentu akan membawa nilai tukar ke lebih baik," ujarnya
Saat ini kondisi defisit sudah menunjukan perbaikan. Seperti defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang berada di bawah 3,5% dan defisit fiskal yang terjaga oleh pemerintah.
"Transaksi berjalan sudah menunjukan perbaikan akibat tren neraca perdagangan yang surplus dalam beberapa bulan terakhir," kata Agus.
Selain itu yang mempengaruhi rupiah adalah pendalaman pasar keuangan. Kondisi ketersediaan valuta asing (valas) di dalam negeri akan membawa dampak terhadap nilai tukar.
"Selain itu ada pengaruh dari pendalaman pasar keuangan. Kalau kondisi valas kita tidak cukup dalam. Tentu akan bisa mempengaruhi nilai tukar," terangnya.
Tahun ini penarikan stimulus oleh Bank Sentral AS juga akan menjadi pengaruh bagi rupiah. Meskipun diharapkan kepanikan pasar tidak terjadi namun arus modal keluar juga masih akan berlanjut.
"Tahun 2014 yang kita lihat tantangannnya adalah isu tappering bagaimana implikasinya kepada dunia. Dan bagaimana pengelola dana ini mereposisi asetnya," papar Agus.
(mkl/dru)











































