Tahun 2005, BRI Akan Lepas Obligasi Rekap Rp 8 Triliun

Tahun 2005, BRI Akan Lepas Obligasi Rekap Rp 8 Triliun

- detikFinance
Selasa, 30 Nov 2004 13:08 WIB
Jakarta - Bank Rakyat Indonesia (BRI) berencana melepas obligasi rekapitalisasinya sebesar Rp 8 triliun pada tahun 2005 nanti. Dari target itu diharapkan bisa terserap pasar sebesar Rp 3 triliun-Rp 5 triliun.Sedangkan obligasi yang selalu tersedia untuk dijual (trading portofolio) saat ini mencapai Rp 2 triliun."Available bond to sale tahun 2005 sebesar Rp 8 triliun dan kita harapkan yang bisa terserap pasar Rp 3 triliun-Rp 5 triliun," kata Direktur BRI Wayan Alit Antara dalam publik ekspose di kantor BRI, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, Selasa, (30/11/2004).Menurut Wayan, per kuartal III 2004 obligasi rekap yang ada di BRI tercatat Rp 26,167 triliun atau berkurang dibandingkan akhir tahun 2003 yang sebesar Rp 27,579 triliun.Penjualan obligasi rekap ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan organik untuk likuiditas pendanaan. Selain itu juga meningkatkan marjin yang didapat BRI. Pasalnya, bunga obligasi yang saat ini sebesar 10,75-10,9 persen jika dipindahkan ke pinjaman yang bunganya 14-16 persen akan memberikan keuntungan.Diakui Wayan selama ini BRI lambat melepas obligasi rekapnya karena berpikir pemerintah akan melakukan reprofilling. "Jadi baru mulai 2003 kita melepas obligasi, dan tahun depan sedikit agresif. Penjualan obligasi akan dilakukan ke dalam reksadana yang saat ini BRI Investama telah mencapai Rp 1,8 triliun," ungkap dia.Sementara itu, Direktur BRI Ahmad Askandar mengatakan, saat ini BRI tetap memfokuskan pada UMKM yang per kuartal III 2004 komposisinya mencapai 83 persen dari total kredit. Karena itu, jika BRI melakukan pembiayaan ke sektor infrastruktur tetap melihat batasan bahwa kredit korporasi yang diberikan maksimal 20 persen dari total kredit yang memiliki nilai lebih dari Rp 50 miliar."Jika BRI akan melakukan pembiayaan infrastruktur seperti program pemerintah kita memilih melakukannya lewat sindikasi dengan bank-bank lain seperti Bank Mandiri atau BNI," kata dia.Sementara itu terkait dengan hapus tagih, Direktur BRI lainnya Gayantri R. Angraini mengatakan, jika BRI melakukan hal itu pada tahun 2005 maka plafonnya tidak jauh berbeda dengan tahun 2004 yang sebesar Rp 500 miliar.Namun plafon tahun 2004 masih ada yang tersisa karena mengalami kendala persetujuan dari Depkeu. Yang jelas, katanya, seluruh kredit yang sudah dihapus tagih sebelumnya sudah dihapustagihkan dulu.Dia juga menjelaskan, meski saat ini banyak bank yang terjun ke sektor UMKM dan persaingannya cukup ketat, namun pasar sektor ini masih cukup luas. Hal ini terlihat dari jumlah pengusaha UKM yang tercatat 15 juta, dan sebesar 12 jutanya belum memiliki hubungan dengan bank. Sedangkan, BRI dari pangsa pasar ini baru bisa meraih nasabah sebesar 3,5 juta."Nasabah mikro ini jika bagus nantinya akan naik kelas menjadi nasabah ritel. Inilah yang nantinya menjadi nasabah inti yang akan dipertahankan agar tidak lari ke bank lain.Lebih jauh, Wayan menjelaskan, untuk tahun 2005 pertumbuhan kredit BRI diharapkan naik sebesar 20 persen atau sekitar Rp 11 triliun-Rp 12 triliun, di mana per kuartal III 2004 total outstanding kredit mencapai Rp 85 triliun.Tak Bagi DividenWayan juga menjelaskan, saat ini BRI belum bisa membagikan dividen interim kepada para pemegang sahamnya. "Kami melihat kinerja bursa cukup bagus karena saham BRI yang ditarnsaksikan cukup banyak dan likuid disamping trend kenaikannya akan terus berlanjut," kata dia.Namun demikian, manajemen BRi tetap mengusulkan dividen yang dibagikan untuk tahun buku 2004 sebesar 50 persen dari laba bersih.Dia juga menjelaskan selama satu tahun listing sejak 10 November 2003, harga saham BRI dengan kode BBRI telah meningkat sebesar 244 persen dari harga penawaran perdana yang sebesar Rp 875 menjadi Rp 2.125/saham pada 10 November 2004. Bahkan, pada penutupan bursa pada Senin, (29/11/2003), harga saham BRI berada di level Rp 2.400.Saham BRI yang dimiliki publik saat ini sebesar 40,5 persen dan sisanya 59,5 persen masih dikuasai oleh pemerintah. (mi/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads