Prediksi Nasib IHSG Pasca Kemenangan Prabowo atau Jokowi

Prediksi Nasib IHSG Pasca Kemenangan Prabowo atau Jokowi

- detikFinance
Selasa, 08 Jul 2014 07:30 WIB
Prediksi Nasib IHSG Pasca Kemenangan Prabowo atau Jokowi
Jakarta - Pemilihan presiden (pilpres) besok digelar. Salah satu dari pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa atau Joko Widodo-Jusuf Kalla akan memimpin Indonesia untuk 5 tahun ke depan.

Kira-kira bagaimana pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah pemilu besok? Mari simak di sini prediksinya, seperti dikutip detikFinance, Selasa (8/7/2014).

Prabowo Menang, Pasar Bisa Jatuh

Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, Head of Economic Research Danareksa Research Institute, awalnya ada anggapan bahwa pasar akan bereaksi negatif jika Prabowo-Hatta yang terpilih. Bahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terkoreksi cukup dalam.

"Kalau Prabowo, itu dulu awal-awal prediksi pasar kalau dia menang market bisa terkoreksi sampai 15%. Tapi sekarang prediksi berubah karena memang mereka sudah melihat visi-misinya lewat berbagai sesi debat kandidat," kata Yudhi.

Saat ini, lanjut Yudhi, pasar relatif sudah bisa menerima pasangan nomor urut 1 tersebut meski tetap saja jika mereka terpilih akan terjadi koreksi. "Prediksi sekarang, paling koreksi 3-4%. Perkiraan IHSG ada di level 4.500-4.600," katanya.

Namun, tambah Yudhi, berbagai perkiraan tersebut hanya bersifat sementara. "Ini hanya penyesuaian. Yang membedakan keduanya hanya di reaksi awal, tapi setelahnya market akan melihat siapa orang-orang yang ada di pemerintahan," tuturnya.

Masa penyesuaian ini, menurut Yudhi, bisa terjadi dalam waktu 2-3 bulan. Oleh karena itu, dia berharap pelaku pasar untuk tidak panik berlebihan.

"Kalau pun akan terkoreksi dalam, ada potensi di titik terendah market akan ambil aksi beli. Penyesuaian paling 2-3 bulan untuk market, jadi tidak menakutkan. Kita tidak perlu panik," ucap Yudhi.

Jokowi Menang, Dana Asing Mengalir Masuk

Pelaku pasar modal berharap banyak calon presiden (capres) nomor 2 Jokowi Widodo (Jokowi) bisa memenangkan pemilihan presiden (pilpres) 9 Juli mendatang.

Head of Economic Research Danareksa Research Institute. Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, situasi politik selalu berpengaruh terutama jelang pemilu. Menurutnya, pelaku pasar berekspektasi capres nomor dua, Joko Widodo, bisa memenangkan pemilu kali ini dan terpilih sebagai presiden RI untuk periode berikutnya.

"Market expect Jokowi bakal menang jadi dana masuk karena investor lebih suka Jokowi. Beberapa survei memang menyebutkan, kayak misalkan yang (survei) luar negeri itu kalau Jokowi katanya unggul," katanya.

IHSG Bisa Tembus 5.300 Kalau Jokowi Menang

Pelaku pasar modal sudah sejak awal mengunggulkan calon presiden (capres) nomor 2 Joko Widodo (Jokowi) bisa menjadi presiden Republik Indonesia (RI) yang selanjutnya. Hal ini bisa terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pertama kali IHSG terbang tinggi adalah saat Jokowi menyatakan akan maju menjadi calon presiden pada Jumat 14 Maret 2014. Saat itu IHSG terbang hingga 3% dan merupakan lonjakan tertingginya tahun ini.

Saat itu dana asing langsung masuk membanjiri pasar modal sebanyak Rp 3 triliun dalam sehari dan nilai tukar rupiah pun bisa menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal yang sama terlihat pada perdagangan hari ini.

Hari ini IHSG bisa melonjak hingga lebih dari 60 poin. Dana asing yang masuk sudah lebih dari Rp 500 miliar, dan dolar AS ditekan hingga di kisaran Rp 11.700 per dolar AS.

"Kalau Jokowi menang, IHSG bisa 5.200-5.300 tapi ke depan tergantung kabinetnya dan siapa menteri-menterinya, itu akan mempengaruhi pergerakan IHSG," kata Yudhi.

Bedanya Prabowo dan Jokowi di Mata Investor Asing

Dua calon presiden (capres) Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) tengah bersaing untuk menjadi pemimpin Republik Indonesia (RI) periode selanjutnya. Apa bedanya kedua capres tersebut di mata investor asing pasar saham?

Kepala Riset Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, ada beberapa perbedaan antara kedua capres yang jadi fokus para pelaku pasar asing.

"Investor asing itu memang lebih melihat Jokowi. Kenapa? Yang paling penting bagi mereka itu sederhana dan merakyat, itu ada di Jokowi. Asing ingin melihat perubahan rezim," katanya.

"Mungkin Jokowi itu berbeda dari sebelumnya, ada kesan Jokowi tidak akan ada nasionalisasi, sementara Prabowo sudah terbentuk ada nasionalisasi dan Prabowo mungkin nantinya akan sama seperti sebelumnya walaupun ke depan kita tidak tahu tapi mungkin Prabowo tegas yang tidak dipunyai pemimpin kemarin," ujarnya.

Ia menambahkan, pelaku pasar internasional juga cenderung lebih suka dengan program-program yang diusung Jokowi bersama wakilnya, Jusuf Kalla (JK). Investor sudah menilai dan menimbang-nimbang calon mana yang cocok dengan pelaku pasar.

"Jokowi menonjol kesederhanaannya, sementara Prabowo soal latar belakang militernya, dan image yang sudah terbentuk kalau militer itu terkesan otoriter padahal kan kita belum tahu. Yang penting ada ekspektasi pemilu aman maka asing akan masuk," ucap mantan staf ahli Kemenko Perekonomian ini.
Halaman 2 dari 5
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads