Pelaku Ekonomi Penasaran Susunan Kabinet Presiden Baru

Pelaku Ekonomi Penasaran Susunan Kabinet Presiden Baru

- detikFinance
Rabu, 09 Jul 2014 14:02 WIB
Pelaku Ekonomi Penasaran Susunan Kabinet Presiden Baru
Jakarta - Hari ini Indonesia merayakan pesta demokrasi Pemilihan Umum Presiden ke-7. Momentum ini dipandang sebagai kunci utama penggerak pasar saham tanah air yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan laju nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.

Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani menjelaskan, pada pemilu kali ini terlihat kecenderungan bahwa pasar sudah mulai bisa menerima siapapun presiden yang akan terpilih nanti.

"Pada awalnya perhatian pasar memang terpusat pada satu capres tertentu, tapi mendekati pemilihan umum ini, terutama kemarin terlihat pada akhirnya mereka (pelaku pasar) lebih bisa menerima siapapun yang terpilih," ujar Aviliani dalam acara nonton bareng hitung cepat bersama Transmedia di Menara Bank Mega, Jalan Kapten Tendean, Jakarta, Rabu (9/7/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Aviliani, sikap pelaku pasar tersebut dapat dilihat dari laju IHSG dan rupiah yang pada perdagangan Selasa mencatatkan posisi yang sangat baik.

“Kedua Capres-Cawapres ini sudah memaparkan visi misinya dan pasar bisa menerima, dua-duanya dianggap baik, hanya caranya saja yang berbeda. Artinya ada optimisme pelaku pasar bahwa siapapun presidennya dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Buktinya IHSG terus naik di atas 5.000 dan rupiah pun cukup positif," papar dia.

Pasca Pilpres ini sendiri, lanjut Aviliani, Indonesia tidak boleh terlena pada kegembiraan atau kekecewaan berlebih terlalu lama karena tugas berat memperbaiki ekonomi Indonesia telah menanti pada bulan Oktober mendatang.

"Siapa pun yang terpilih tidak mudah untuk membawa ekonomi indonesia ke arah yang berkualitas. Tantangannya di 2015 akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia. Siapa pun presidennya harus memberi perhatian bagaimana negosiasi yang baik bagi posisi Indonesia di Masyarakat Ekonomi Asia nanti," paparnya.

Masalah lain yang juga menjadi tantangan adalah permasalahan kemiskinan yang menunggu untuk dituntaskan dan terutama, kata Aviliani adalah memperbaiki defisit transaksi berjalan.

"Defisit transaksi berjalan masih menjadi PR berat bagi kedua pasangan. Setelah pembetukan kabinet bulan Oktober akan terlihat, dan mereka harus mulai bekerja keras menyelesaikan PR-PR itu," tegas dia.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads