Investor khawatir tragedi ini kembali memicu panasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Rusia. Apalagi ketegangan hubungan kedua negara ini baru saja sedikit mereda pasca peristiwa di Krimea.
Bursa saham global pun bertumbangan. Di Wall Street, Indeks Dow Jones jatuh 161,39 poin (0,94%) di posisi 16.976,81. Indeks S&P 500 kehilangan 23,45 poin (1,18%) menjadi 1.958,12 dan Indeks Komposit Nasdaq anjlok 62,52 poin (1,41%) menjadi 4.363,45.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agustinus Prasetyantoko, pengamat ekonomi Universitas Atma Jaya Jakarta, menilai respons negatif pasar akibat insiden Malaysia Airlines MH17 hanya jangka pendek. "Walau IHSG turun cukup signifikan, tapi menurut saya ini sesaat. Sentimen non fundamental biasanya tidak akan bertahan dalam jangka panjang," katanya kepada detikFinance, Jumat (18/7/2014).
Menurut pria yang akrab disapa Pras ini, kemungkinan sanksi embargo atas Rusia masih terlalu jauh. "Sekarang masih dilakukan investigasi. Jadi menurut saya langkah yang diambil belum akan sejauh itu (embargo)," tuturnya.
Namun, lanjut Pras, sentimen negatif bisa saja bertahan cukup lama jika insiden ini menciptakan kerumitan hubungan diplomatik antara Washington dan Kremlin. "Insiden pesawat ini menambah kerumitan yang sudah ada. Apalagi sekarang masih ada masalah di Timur Tengah. Jadi investor global merespons secara negatif," ucapnya.
Tidak hanya di pasar keuangan, tambah Pras, harga minyak juga akan terpengaruh ketika hubungan diplomatik AS dan Rusia memanas. Maklum, Rusia adalah salah satu pemain utama industri minyak dunia. Tahun lalu, produksi minyak Negeri Beruang Merah mencapai 10,4 juta barel per hari.
"Harga minyak memang sulit diprediksi. Namun kalau sampai ada sanksi embargo kepada Rusia, pasokan minyak dunia akan terpengaruh. Harga minyak pasti naik," kata Pras.
(hds/hen)











































