Argentina seharusnya melakukan cicilan pembayaran US$ 539 juta terhadap obligasi yang direstrukturisasi pada 30 Juni 2014, dengan masa tenggang 30 hari.
Menurut Chairul Tanjung, Menko Perekonomian, default yang dialami Negeri Tango akan mempengaruhi pasar keuangan global. "Pasti pengaruhnya ada. Waktu Argentina mulai dikabarkan akan default harga saham-saham di New York kan jatuh," papar CT, sapaan Chairul Tanjung, kala ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menghadapi potensi guncangan akibat krisis utang Argentina, CT menegaskan Indonesia harus memperkuat fondasi ekonomi. "Kalau saya filosofisnya adalah menjaga dan memperkuat fondasi kaki kita sendiri agar apa pun yang terjadi di luar kita tidak akan goyah," tuturnya.
Salah satu upaya untuk memperkuat fondasi ekonomi, tambah CT, adalah mencintai produk dalam negeri. Dunia usaha juga harus mampu menyediakan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, ketergantungan Indonesia terhadap negara lain bisa dikurangi.
"Misalnya dari segi penduduk 240 juta, kita punya kebutuhan luar biasa banyak. Itu harusnya kalau kita bisa mandiri, akan terputus hubungan terhadap efek negatif yang dibuat negara lain. Jadi kekuatan ada di kaki kita sendiri," tegas CT.
Untuk saat ini, menurut CT, Indonesia masih harus waspada. "Kondisi sekarang so far so good, tapi jangan berpuas diri. Sekarang ini kita sudah masuk era di mana kalau kita lari di tanjakan. Kalau dulu mendayung perahu ikut angin saja, sekarang kita mendayung harus bekerja keras luar biasa," ucapnya.
(hds/ang)











































