Meskipun pelantikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) berjalan mulus, namun posisi di parlemen masih tetap minoritas.
Kondisi ini pun bisa menjadi sentimen negatif jika dalam pengambilan keputusan atau kebijakan pemerintahan Jokowi-JK terjadi gontok-gontokan di parlemen.
"Turbulensi, kalau jelek lagi ya turbulens lagi, amat sangat tergantung dengan pemilihan kabinet, apa ada gontok-gontokan lagi di parlemen. Kalau damai-damai saja bagus. Potensi turbulensi, IHSG bisa ke 4.850-4.900, banyak terjadi akumulasi pembelian saham," ujar Kepala Riset Bahana Securities Harry Su dalam acara Konferensi Pers Kinerja PT Bahana Securities dan Market Outlook 2015 dengan tema ”In Rough Water,” di Graha Niaga, Jakarta, Rabu (22/10/2014).
Harry mengungkapkan, untuk bisa menjadi mayoritas di parlemen setidaknya koalisi pemerintahan saat ini perlu menarik partai-partai oposisi untuk bersama-sama memperkuat pemerintahan saat ini.
"Kalau bisa koalisi yang lebih besar di parlemen, itu akan sangat membantu. Salah satu yang ditunggu pasar koalisi di parlemen sehigga dapat memperkuat keputusan reform and policy yang diambil Jokowi-JK ke depan," katanya.
Menurut Harry, investor pun saat ini masih dalam posisi khawatir akan ada penjegalan di parlemen jika tidak ada koalisi yang lebih mendukung pemerintahan.
"Betul (investor khawatir Jokowi dijegal di parlemen)," ungkap Harry.
(drk/ang)











































