2005, KPEI Targetkan Pinjam Meminjam Efek Capai Rp 160 M
Rabu, 19 Jan 2005 15:26 WIB
Jakarta - PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) menargetkan transaksi Securities Lending and Borrowing (SLB) atau Pinjam Meminjam Efek (PME) pada tahun 2005 ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2004 yang sebesar Rp 80-Rp 85 miliar."SLB tahun ini kita targetkan dua kali lipat menjadi Rp 160 miliar dibandingkan tahun lalu," kata Dirut KPEi Inarno Djadjadi kepada wartawan, Jakarta, Rabu (19/1/2005).Menurut Inarno, melihat transaksi saham saat ini yang rata-rata per hari mencapai Rp 1 triliun dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) di level 1.000-an, maka pihaknya optimis target SLB tahun ini yang dua kali lipat lebih besar dibandingkan 2004 bisa tercapai.Saat ini menurut dia, ada sebanyak 50 sampai 60 anggota bursa (AB) yang menggunakan fasilitas SLB. Setelah adanya peraturan dari Bapepam pada September 2004 yang membolehkan Bank Kustodian bisa menggunakan fasilitas SLB, diharapkan pada tahun ini jumlah peserta SLB akan semakin banyak."Sudah ada beberapa beberapa bank kustodian asing yang menyatakan minatnya, tapi sekarang belum ikut SLB dan kita optimis jumlah bank kustodian yang ikut cukup banyak," kata Inarno.Menurut Inarno, tujuan utama penyelenggaraan fasilitas Pinjam Meminjam Efek (PME) oleh KPEI adalah membantu para Anggota Kliring KPEI yang membutuhkan pinjaman Efek untuk menghindari terjadinya kegagalan penyelesaian transaksi bursa. Pinjam Meminjam Efek melalui KPEI juga merupakan dipersyaratkan oleh Bapepam bagi Anggota Kliring yang ingin melaksanakan transaksi margin.Inarno menjelaskan, peserta SLB hanya membayar fee sebesar 20-26 persen setiap tahun dan ini lebih kecil ketimbang mereka tidak menjadi peserta SLB jika mengalami gagal bayar. "Karena kalau gagal bayar harus mengikuti alternate cash settlement yang biayanya 125 persen untuk 3 hari bursa," ujarnya.Fasilitas SLB sebenarnya sistemnya sudah ada sejak tahun 2001, namun baru mendapat respon dari anggota kliring pada tahun 2004. Sedangkan dari tahun2001 sampai 2003 belum ada satupun transaksi SLB yang terjadi dan baru pada tahun 2004 yang mencatat transaksi sebesar Rp 80-Rp 85 miliar."Kontribusi SLB terhadap pendapatan KPEI tentunya belum banyak, karena 99 persen kontribusi pendapatan masih dari transaksi saham," katanya. Untuk pada tahun 2005 ini, KPEI juga berencana menerbitkan beberapa produk yang diharapkan bisa memberikan tambahan terhadap pendapatan.
(qom/)











































