Dolar 'Mengamuk' Dua Hari, Akhirnya Jinak Juga

Dolar 'Mengamuk' Dua Hari, Akhirnya Jinak Juga

- detikFinance
Rabu, 17 Des 2014 07:42 WIB
Dolar Mengamuk Dua Hari, Akhirnya Jinak Juga
Jakarta -

Nilai tukar dolar mengamuk selama dua hari terakhir. Selain 'menghajar' rupiah, dolar juga perkasa terhadap mata uang di negara-negara kawasan.

Banyak faktor yang membuat dolar AS menguat, beberapa di antaranya adalah pertemuan The Federal Reserve yang dimulai kemarin sampai rencana kenaikan tingkat suku bunga di negeri Paman Sam.

Berikut rangkuman soal penguatan dolar AS yang berhasil membuat rupiah dan mata uang negara regional tekuk lutut seperti dirangkum detikFinance, Rabu (17/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dolar Nyaris Tembus Rp 13.000

Pagi kemarin dolar AS berada di posisi Rp 12.890. Menguat cukup tajam dibandingkan penutupan pasar kemarin yaitu di Rp 12.705.

Dolar AS sempat menanjak hingga titik tertingginya di Rp 12.926 sampai akhirnya ditutup di Rp 12.645.

Bank Jual Dolar Rp 13.000

Di sejumlah bank, dolar AS memang dijual nyaris Rp 13.000. Misalnya di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dolar AS dijual di Rp 12.997. Sementara kurs beli di Rp 12.763.

Di PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga hampir serupa. Kurs jual dolar AS adalah Rp 12.999 dan kurs beli Rp 12.849.

Di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), pun tidak jauh berbeda. Kurs jual dolar AS dipatok Rp 12.980 sementara kurs beli di Rp 12.880.

Sedangkan di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), kurs jual dolar AS sudah mencapai Rp 13.000. Untuk kurs beli ada di Rp 12.700.

Rupiah Melempem di Regional

Tak hanya terhadap dolar AS, pelemahan rupiah ini juga terjadi terhadap dolar Hong Kong, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan yen Jepang.

Riset First Asia Capital menyebutkan, keluarnya modal asing dari pasar keuangan Indonesia telah memperburuk kinerja rupiah terhadap dolar AS sepanjang Desember ini.

Fenomena ini, menurut First Asia Capital, sekali lagi menunjukkan betapa rentannya fundamental ekonomi Indonesia yang memiliki ketergantungan tinggi pada dana asing.

Berikut nilai tukar rupiah terhadap beberapa negara di kawasan:

  • dolar Hong Kong: Rp 1.667 dibandingkan posisi kemarin di Rp 1.637
  • dolar Singapura: Rp 9.767 dibandingkan posisi kemarin di Rp 9.678
  • ringgit Malaysia: Rp 3.694 dibandingkan posisi kemarin di Rp 2.629
  • yen Jepang: Rp 109 dibandingkan posisi kemarin di Rp 107

Dolar AS Perkasa di Hadapan Mata Uang Lain

Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tidak hanya terjadi terhadap rupiah, tapi juga mata uang di negara-negara lain.

Seperti dikutip dari data perdagangan Reuters, Selasa (16/12/2014), dolar AS juga terpantau menguat terhadap yuan Tiongkok, rupee India, baht Tailand, peso Filipina, dan ruble Rusia.

Berikut rinciannya:
yuan Tiongkok setara 6,20 yuan per dolar AS, dibandingkan posisi kemarin di 6,19 yuan
rupee India setara 63,38 rupee per dolar AS, dibandingkan posisi kemarin di 62,80 rupee
baht Tailand setara 33,05 baht per dolar AS, dibandingkan posisi kemarin di 32,96 baht
peso Filipina setara 44,82 peso per dolar AS, dibandingkan posisi kemarin di 44,68 peso
ruble Rusia setara 65,6 ruble per dolar AS, dibandingkan posisi kemarin di 64,3 ruble

Kemarin, dolar AS juga sempat menguat terhadap banyak mata uang lainnya di dunia. Namun, kini sudah ada beberapa yang bisa menahan penguatan dolar AS, seperti dolar Singapura, dolar Hong Kong, dolar Taiwan, dan dolar Australia.

Dijaga BI, Dolar 'Menjinak' di Rp 12.645

Setelah sempat nyaris menyentuh Rp 13.000, kurs dolar Amerika Serikat (AS) saat penutupan pasar kemarin berada di posisi Rp 12.645. Melemah dibandingkan saat pembukaan pasar yaitu Rp 12.705.

Perjalanan rupiah hari ini cukup berliku. Begitu pembukaan pasar, rupiah bergerak dalam tren melemah. Puncaknya, dolar AS sempat menguat di posisi Rp 12.926.

Namun selepas tengah hari, dolar AS perlahan melemah. Posisi terlemah dolar AS kemarin ada di Rp 12.635.

BI Turun ke Pasar Gelontorkan Rp 1,7 Triliun

Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar yang cukup besar untuk menjaga nilai tukar rupiah yang tertekan dalam 2 hari terakhir. Perry Warjiyo, Deputi Gubernur BI, mengatakan bank sentral sudah melakukan intervensi senilai Rp 1,7 triliun.

"Anda bisa lihat dari pergerakannya BI, dalam beberapa hari ini intervensi di valasnya lebih besar. Intinya BI melihat pelemahan dalam beberapa hari terakhir ini terlalu berlebihan. Makanya kita intervensi lebih banyak dan (dolar) sudah kembali ke sekitar Rp 12.600," paparnya.
Halaman 2 dari 7
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads