Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) memastikan kondisi sekarang sangat berbeda dengan 3 periode sebelumnya. Karena fundamental ekonomi jauh lebih membaik.
"Dibanding 1998, 2008, 2013, jauh lah bedanya. Jangan dibandingkan. Fundamental sekarang jauh lebih baik," ungkapnya di Gedung BI, Jakarta, Rabu (17/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada 1998 ada kombinasi persoalan politik dan ekonomi. Makanya kondisinya sangat buruk," sebutnya.
Kemudian berlanjut pada periode 2008 saat terjadinya kehancuran ekonomi Amerika Serikat (AS). Untungnya, Indonesia terbantu dengan tingginya harga komoditas. Sehingga pelemahan rupiah tidak turun drastis.
"Pada 2011 sebenarnya sempat ada gejolak, karena jatuhnya Eropa. Krisis Yunani dan Spanyol itu memberikan dampak. Tapi dampaknya kecil dan kita cepat untuk recovery," terang Mirza.
Sementara tahun lalu, ekonomi yang memburuk dikarenakan keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed untuk menarik stimulus pembelian obligasinya atau dikenal dengan nama tappering off.
Pemerintah akhirnya menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk mengurangi impor minyak dan meredam defisit fiskal. Kemudian bersama BI mengeluarkan paket kebijakan yang sangat efektif dalam waktu dekat.
Sedangkan untuk situasi ekonomi Indonesia saat ini, kata Mirza, fundamentalnya lebih baik dari sebelumnya. Defisit transaksi berjalan atau current account deficit (cad) sekitar 3% dari PDB dan defisit anggaran di bawah batas 2,5%.
"Jadi jangan khawatir. Ini sedang ada turbulence gara-gara Rusia. Tapi hanya temporer dan kita akan segera membaik," tukasnya.
(mkl/ang)











































