Menurut data perdagangan Reuters, saat ini dolar AS berada di posisi Rp 12.560. Melemah dibandingkan saat pembukaan pasar di Rp 12.580.
Mirza Azdityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), menilai penguatan rupiah didorong pernyataan dari bank sentral AS The Federal Reserves/The Fed yang menyebutkan kenaikan suku bunga tidak akan terburu-buru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Mirza menegaskan BI tetap waspada. Pasalnya, masih ada risiko guncangan ekonomi global yang bisa membuat rupiah terperosok lagi.
"Masih ada krisis Rusia dan perlambatan Tiongkok ya. Ini sebagai sesuatu yang perlu diwaspadai, tapi wajar," sebut Mirza.
Kondisi di Rusia, tambah Mirza, perlu mendapat sorotan khusus. Pasalnya, dia menilai apa yang terjadi di Rusia sudah bukan lagi fenomena ekonomi.
"Rusia sedang krisis sampai dia harus menaikkan suku bunga begitu tinggi dan ternyata tidak berhasil. Ini sudah permasalahan politik, bukan ekonomi," tegasnya.
Namun bila pasar sudah memahami situasi di Rusia, menurut Mirza, maka pasar akan tenang dan rupiah tidak lagi tertekan. Bahkan penguatan rupiah lebih lanjut bisa terjadi.
"Nanti kalau investor sudah bisa mencerna masalah Rusia, (dolar AS) bisa balik lagi di bawah Rp 12.500," ujar Mirza.
(hds/hen)











































