Sandi, sapaan akrabnya, mengatakan persoalan rupiah jangan hanya dilihat dari satu sisi yang menguntungkan eksportir. Karena menurutnya tidak banyak pengusaha yang berorientasi ekspor di Indonesia.
"Untuk ekspor memang bagus. Tapi kita harus melihat ini secara lebar. Kan eksportir cuma 1 dari lebih banyak pemain," ungkapnya di kantor ISEI, Jakarta, Jumat (19/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita ubah, awalnya jadikan sebagai keunggulan komparatif. Bukan cuma menjual barang murah. Caranya adalah dengan hilirisasi dan inovasi," jelasnya.
Sandiaga menyebutkan sebenarnya yang terpenting adalah kestabilan nilai tukar. Tidak masalah jika dolar AS tetap di kisaran Rp 12.000, asalkan bergerak stabil.
"Bagi kami, volatilitas itu yang penting," tegasnya.
(mkl/hds)











































