Pasar saham yang sampai penutupan perdagangan cetak rekor antara lain Inggris, Amerika Serikat (AS), Jerman, Swedia, dan Indonesia. Ya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah berkali-kali cetak rekor sejak perdagangan pekan lalu.
Tak hanya itu, banyak juga pasar saham yang mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir meski tidak cetak rekor. Contohnya, Bursa Jepang yang ditutup tertinggi sejak tahun 2000.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jawabannya sederhana, bank sentral. Bank Sentral Uni Eropa alias European Central Bank (ECB) sudah siap menyuntik stimulus. Hanya satu masalah yang menghadang, yaitu penyelesaian utang Yunani.
Tapi saat ini Uni Eropa sedang dalam pembicaraan dengan Yunani untuk menyelesaikan utang. Jerman sebagai negera dengan ekonomi paling sehat di Eropa juga berniat membantu masalah utang Yunani.
Di belahan dunia lainnya, investor AS menyambut positif rencana kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed). Awalnya banyak investor takut atas rencana Gubernur The Fed Janet Yellen itu.
Namun Yellen akhirnya berhasil meyakinkan pelaku pasar bahwa suku bunga naik berarti ekonomi AS sudah tumbuh tinggi dan tahan akan krisis.
"Kami sangat percaya diri. Ketika suku bunga kami naikkan, ini akan menjadi sinyal penguatan ekonomi," kata Yellen saat pidato di hadapan komite senat perbankan AS, seperti dikutip CNN, Rabu (25/2/2015).
Para pelaku pasar menilai Yellen baru akan menaikkan tingkat suku bunga Juni mendatang. Hal ini juga diprediksi oleh banyak analis.
Pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat, Wall Street berakhir positif dengan Dow Jones dan S&P 500 menyentuh rekor baru.
Indeks Dow Jones naik 92,35 poin (0,51%) ke level 18.209,19, Indeks S&P 500 bertambah 5,82 poin (0,28%) ke level 2.115,48 dan Indeks Komposit Nasdaq menguat 7,15 poin (0,14%) ke level 4.968,12.
Sementara IHSG juga berhasil cetak rekor kemarin. Hari ini rekor tersebut bisa dipecahkan jika berhasil memanfaatkan momentum.
(ang/dnl)











































