Selama 2015, Dana Asing Rp 11 T Masuk ke Pasar Saham RI

Selama 2015, Dana Asing Rp 11 T Masuk ke Pasar Saham RI

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Selasa, 10 Mar 2015 19:07 WIB
Selama 2015, Dana Asing Rp 11 T Masuk ke Pasar Saham RI
Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah dalam beberapa hari terakhir. Bahkan kini dolar AS berada di kisaran Rp 13.000, tertinggi sejak 17 tahun terakhir.

Meski begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara umum melihat sektor keuangan Indonesia masih stabil. Investor asing masih menunjukkan kepercayaan terhadap Indonesia, seperti yang terjadi di pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN).

"Sepanjang 2015 per 6 Maret, terdapat capital inflow (arus modal masuk) di pasar saham dan SBN sebesar masing-masing Rp 11,7 triliun dan Rp 44 triliun.
Kinerja keuangan dan profil risiko di lembaga jasa keuangan juga terpantau masih dalam kondisi normal," papar Muliaman Hadad, Ketua Dewan Komisioner OJK, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/3/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tambah Muliaman, menguat 3,04% dibandingkan posisi 6 Februari 2015 di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Penguatan dipengaruhi pengaruh sentimen global dan regional serta membaiknya kondisi fundamental ekonomi domestik.

Pada Maret 2015 sampai tanggal 6, nilai beli bersih (net buy) investor asing di pasar saham tercatat Rp 893 miliar. Sedangkan di pasar SBN terdapat net sell (jual bersih) Rp2,3 triliun.

"Kami memandang net sell SBN lebih merupakan aksi portfolio rebalancing," ujar Muliaman.

Ke depan, lanjut Muliaman, OJK terus mencermati perkembangan utama perekonomian global dan domestik yang berpotensi berdampak terhadap kondisi sektor jasa keuangan dan stabilitas sistem keuangan nasional. Perkembangan global yang dicermati antara lain normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS (The Federal Reserves/The Fed), perkembangan ekonomi Jepang dan Eropa, pelambatan ekonomi negara-negara berkembang khususnya China, serta pergerakan harga komoditas dunia.
Β 
"Di dalam negeri, OJK mencermati beberapa perkembangan seperti pergerakan nilai tukar rupiah dan dampaknya terhadap sektor jasa keuangan, serta kondisi fundamental makroekonomi," kata Muliaman.

OJK, tambah Muliaman, telah melakukan uji ketahanan (stress test) terkait kekuatan sektor keuangan Indonesia. Sejauh ini, hasil stress test menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan pertumbuhan ekonomi masih dalam batas yang dapat ditoleransi.

(hds/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads