PT Adaro Energy Tbk (ADRO) meraup laba bersih US$ 147,7 juta atau sekitar Rp 1,7 triliun (kurs Rp 12.000) di 2014. Laba ini anjlok 37% dibandingkan posisi tahun sebelumnya US$ 228,8 juta (Rp 2,7 triliun).
Sementara pendapatan usaha perusahaan tambang itu naik di 2014, yaitu US$ 3,3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya US$ 3,2 miliar.
Harga batu bara internasional (Global Coal Newcastle) mengalami penurunan sebesar 17% pada tahun 2014 dengan harga rata-rata di kisaran US$ 70,95. turunnya harga ini akibat dari kelebihan pasokan batu bara yang masih berlanjut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Situasi makro tahun lalu masih sulit dengan harga batu bara yang masih tertekan akibat kelebihan pasokan dan kapasitas di pasar. Kami memperkirakan kondisi pasar masih akan menantang di tahun 2015," ujar Presiden Direktur Adaro, Garibaldi Thohir, dalam siaran pers, Rabu (11/3/2015).
Meski demikian, Adaro optimistis fundamental jangka panjang untuk sektor batu bara dan energi masih tetap kokoh. Perseroan akan fokus pada keunggulan operasional, menjaga kas dan pengembangan bisnis termasuk memperkuat bisnis logistik dan hilir dengan bisnis ketenagalistrikan.
"Kami tetap berada pada jalur yang tepat untuk menciptakan nilai maksimum dari batu bara Indonesia, termasuk membayar dividen tunai tahunan," katanya.
Adaro secara rutin membayar dividen setiap tahunnya. Sebagaimana telah disepakati pada Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 25 April 2014, rasio pembayaran dividen perusahaan adalah 32% dari laba bersih tahun 2013, atau US$ 75 juta atau US$ 0,002 per saham.
Angka ini termasuk dividen interim tunai untuk tahun 2013 sebesar US$ 40 juta, yang dibayarkan pada tanggal 16 Januari 2014. Pada bulan Juni 2014, perusahaan melakukan pembayaran akhir dividen sebesar US$ 35 juta.
Selain itu, Dewan Komisaris dan Direksi Adaro memutuskan untuk membagikan dividen interim tunai tahun 2014 sebesar US$ 30,1 juta atau US$ 0,001 per saham yang dibayar pada tanggal 16 Januari 2015.
(ang/dnl)











































