Namun, Direktur Institute for Development of Economy and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, menilai penurunan BI Rate bukan penyebab utama keoknya nilai tukar rupiah. Menurutnya, bagi investor yang paling utama adalah keamanan, bukan imbalan (return).
"Uang itu yan penting aman dulu, return nomor 2. Kalau Indonesia bisa menjamin keamanan, tidak terjadi apa pun, maka investor tidak akan ke mana-mana," katanya kepada detikFinance, Rabu (11/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau bunga tinggi tentu akan berdampak negatif kepada sektor riil. Kita perlu devisa lebih banyak agar rupiah lebih stabil, yang salah satunya datang dari ekspor. Tapi bila masih ada high cost economy, bagaimana perusahaan-perusahaan kita bisa bersaing apalagi sampai bisa ekspor?" tegasnya.
Oleh karena itu, tambah Enny, BI tentunya punya berbagai pertimbangan untuk menurunkan BI Rate.
"BI tidak fokus pada single target seperti memperkuat rupiah. Kondisi sektor riil harus menjadi pertimbangan," tuturnya.
Sebelumnya, Senior FX Strategy ANZ Khoon Goh mengatakan pelemahan rupiah tidak lepas dari pernyataan Gubernur BI Agus Martowardojo beberapa waktu lalu. Agus sempat menyebut bahwa tahun ini sepertinya inflasi Indonesia terkendali. Bahkan bukan tidak mungkin infllasi sepanjang 2014 hanya berada di kisaran 4%.
Pasar mengartikan ini sebagai sinyal bahwa BI akan mulai mengendurkan kebijakan moneter. Salah satunya adalah peluang penurunan BI Rate lebih lanjut.
Ketika suku bunga semakin rendah, maka investasi di Indonesia sudah kurang menggiurkan. Akibatnya terjadi arus modal keluar (capital outflow) yang membuat rupiah melemah.
"Sepertinya bank sentral mengizinkan rupiah melemah. Ini memicu lebih banyak arus modal keluar," tutur Goh seperti dikutip dari CNBC, Senin (9/3/2015).
(hds/ang)










































