Mengutip data Reuters, pada hari ini dolar AS diperdagangkan di Rp 13.185. Posisi dolar AS terkuat adalah Rp 13.193
Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini dinilai Gubernur Bank Indonesia (BI) tidak perlu dikhawatirkan berlebihan. Menurutnya, jangan membuat kondisi menjadi panik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus menjelaskan, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini juga diikuti mata uang negara lainnya. Perekonomian AS saat ini memang tengah membaik yang membuat mata uangnya terus perkasa.
Agus mencontohkan, depresiasi rupiah di periode Desember 2014 hingga Maret 2015 hanya sebesar 6%. Sementara sepanjang 2014 depresiasinya hanya 1,8%.
"Itu kan betul ada depresiasi kurang lebih 6% tetapi yang kita musti tahu bahwa di 2014 sepanjang tahun 1,8% jadi kalau misalnya kita lihat konteks seperti itu rupiah enggak terlalu mengkhawatirkan, kenapa? Karena memang sekarang ada kecenderungan dunia di mana dolar AS itu menguat terhadap seluruh mata uang dunia, rupiah tertekan," jelas dia.
Sebagai perbandingan dengan negara berkembang di dunia, Agus menyebutkan, Indonesia masih lebih baik.
Brasil misalnya, di 2014 itu depresiasinya mencapai 12,5%, sementara year to date di tahun 2015 mencapai 17%.
Turki juga selalu dibandingkan dengan Indonesia, Turki sepanjang 2014 depresiasi 8%, periode Desember-Maret 2015 mencapai 12%.
Sementara Malaysia di tahun lalu depresiasinya mencapai 6%, secara year to date di 2015 juga mencapai sekitar 6%.
"Jadi kalau dibandingkan, Indonesia itu nggak terlalu buruk," katanya.
Lebih jauh Agus menjelaskan, secara umum ada penguatan dari dolar AS, ada kecenderungan bahwa Fed fund rate akan dinaikkan, yang diperkirakan akan dinaikkan di Juni-Juli 2015. Bunga yang tadinya 0,25% akan dinaikkan menjadi antara 0,5-1%, tapi di 2016 akan naik lagi sampai 2,5%.
"Jadi kita musti mempersiapkan kondisi itu," ucap dia.
Kalau rupiah secara umum, lanjut Agus, kebijakan BI arahnya adalah akan fokus pada menjaga stabilisasi ekonomi makro ekonomi dan posisi secara moneter.
"Bisa dikatakan tetap bisa ketat, kita ingin meyakinkan bahwa inflasi 2015-2016 sebagaimana kita targetkan 4% plus minus 1%. Empat persen akan kita capai di 2015 bahkan lebih baik," sebutnya.
BI juga punya kebijakan untuk mengarahkan transaksi berjalan ke defisit yang lebih sehat dan itu adalah di minus 2,5-3%.
Arah kebijakan lain adalah untuk menjaga stabilitas keuangan dengan menjaga cadangan devisa tetap sehat.
"Kita juga akan mendorong upaya pengelolaan Utang Luar Negeri (ULN) yang sehat, kita sudah keluarkan aturan dan kita terapkan agar dikelola dengan hati-hati," kata Agus.
Selain itu, BI juga mendorong upaya pendalaman pasar uang yang disertai dengan kegiatan pendalaman pasar uang, fasilitas lindung nilai.
"Perusahaan-perusahaan akan menata agar tidak ada risiko utang, likuiditas, kredit berlebihan. Tentu BI mendorong perbankan mempersiapkan fasilitas-fasilitas lindung nilai. BI juga mendorong supaya terus terjadi transaksi rupiah di dalam negeri. Itu arah kebijakan BI ke depan, kami berkoordinasi dengan pemerintah," pungkasnya.
(drk/ang)











































